Rabu, 20 Januari 2016

DOKTRIN ALLAH TRITUNGGAL



BAB I
MENGENAL ALLAH

Pertanyaan    :Apakah Allah Itu?
Jawabannya   :Allah adalah Roh, yang tidak terbatas, yang kekal, dan yang tidak berubah; dalam keberadaan-Nya, hikmat-Nya, kuasa-Nya, kekudusan-Nya, keadilan-Nya, kebaikan-Nya, dan kebenaran-Nya.

-          Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran, Yohanes 4:24.
-          Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah, Mazmur 90:2.
-          Bahwasannya Aku, TUHAN, tidak berubah, Maleakhi 3:6.
-   Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU”, (Keluaran 3:14). Besarlah Tuhan kita … kebijaksanaan-Nya tak terhingga, (Mazmur 147:5). Dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa…”, (Wahyu 4:8). Siapakah yang tidak takut ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus …, (Wahyu 15:4). Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya ….tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya …, (Keluaran 34:6-7).

Yesus menyatakan bahwa “Allah itu Roh”, Yohanes 4:24. Allah adalah Roh, yakni Roh yang memiliki sejumlah atribut (karakteristik/kualitas) khusus yang membedakan-Nya dengan keberadaan lain. Malaikat adalah roh, manusia juga memiliki roh. Tetapi malaikat dan roh manusia terbatas. Karena itu, kita harus mengakui bahwa Allah itu Roh yang tidak terbatas.
Manusia memiliki roh yang bersifat nonmaterial; tidak dapat lihat, atau diraba, atau ditimbang, atau diukur. Roh manusia dapat dibandingkan dengan Allah, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Karena Allah itu Roh, maka Allah tidak memiliki tubuh jasmani seperti yang dimiliki manusia. Allah tidak dapat dilihat bahkan tidak akan pernah dilihat oleh manusia dengan mata jasmani, Yohanes 1:18; 1Yohanes 4:12. Dalam segala hal manusia tidak dapat melihat Allah, bahkan jika berusaha untuk menampakan Allah dalam bentuk gambar atau patung  sudah merupakan dosa. Nabi Yesaya mengatakan “jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang kamu anggap serupa dengan Dia?”, Yesaya 40:18.arahkanlah matamu ke langit,” kata  Yesaya untuk menjawab pertanyaannya sendiri, “dan lihatlah; siapa yang menciptakan semua bintang itu”, Yesaya 40:26.

Dengan demikian satu-satunya cara untuk “melihat Allah” adalah secara tidak langsung. Kita dapat melihat-Nya semata-mata melalui “refleksi” dari keberadaan-Nya di dalam berbagai ciptaan-Nya.
Ada satu gambaran dalam buku katekismus, yang dapat kita pakai untuk mendapatkan sedikit pemahaman tentang kebenaran di atas.
Ada seorang laki-laki bernama Shorty, sedang melihat bayangannya sendiri dalam sebuah cermin. Dengan jelas akan tampak  dua kebenaran di sini.

Pertama: kita melihat bahwa keduanya (Shorty dan bayangannya) sama sekali berbeda, karena yang satu nyata / hidup, sementara yang satu tidak.

Kedua: kita melihat bahwa keduanya (Shorty dan bayangannya) sama persis, karena bayangan tersebut memang merupakan tiruan Shorty dalam setiap detailnya.
Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa Allah memiliki atribut-atribut (karakter/kualitas), ada yang dapat dikomunikasikan atau dibagikan seperti: keberadaan-Nya, hikmat-Nya, kuasa-Nya, kekudusan-Nya, keadilan-Nya, kebaikan-Nya, kebenaran-Nya. Sedangkan ada juga atribut (karakter/kualitas) yang tidak dikomunikasikan atau dibagikan misalnya: Allah adalah Roh, Allah tidak terbatas, Allah kekal, Allah tidak berubah.
Sementara manusia, diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya, memiliki jiwa yang hidup, manusia terbatas, manusia hanya sementara, manusia dapat berubah.
Demikian pula halnya ketika membandingkan Allah dengan manusia yang telah diciptakan-Nya menurut gambar-Nya. Kita akan melihat kedua hal tersebut di atas.

Pertama: kita melihat bahwa Allah sama sekali berbeda dengan manusia.

Kedua: kita juga melihat bahwa manusia telah diciptakan menurut gambar Allah.

Penjelasannya:
Kita dapat melihat bahwa Allah memiliki sejumlah atribut (karakteristik/kualitas) tertentu yang tidak dapat dibagikan-Nya kepada manusia. Misalnya: Allah tidak terbatas, sedangkan manusia terbatas. Allah itu kekal, sedangkan manusia hanya sementara/fana. Allah tidak berubah, sedangkan manusia selalu berubah. Atribut-atribut yang tidak dibagikan itu, dipertankan-Nya menjadi milik-Nya sendiri bagi Diri-Nya. Hal ini sama dengan mengatakan bahwa Shorty tidak membagi tubuh jasmaninya yang solid (utuh dan berkualitas) kepada bayangannya yang ada di cermin. Namun kita juga melihat bahwa Allah memiliki atribut-atribut tertentu yang memang dibagikan-Nya atau dikomunikasikan-Nya kepada manusia, artibut-atribut itu dimiliki manusia sejak manusia diciptakan dan sebelum jatuh ke dalam dosa. Sama halnya dengan Shorty, memberi kepada bayangannya warna rambut yang sama, senyum yang sama dan sebagainya, sehingga bayangan Shorty sama seperti Shorty yang nyata.

Tetapi sekarang kita sampai pada suatu hal yang paling sulit namun penting yakni atribut-atribut Allah yang dibagikan atau dikomunikasikan. Akan tetapi, tetap saja kita harus menyadari bahwa ada perbedaan antara Allah dan manusia sekalipun manusia diciptakan menurut gambar-Nya, seperti halnya Shorty dan bayangannya di cermin.  Bukankah senyum Shorty dan senyum dari bayangannya Shorty di cermin sama? Tidak. Sekalipun bayangan Shorty adalah diberikan oleh Shorty yang asli atau riil, namun tetap saja berbeda. Perbedaannya adalah senyum Shorty itu nyata, sedangkan senyum bayangan Shorty dalam cermin tidak lain adalah seulas senyum dari bayangan itu. Senyum Shorty jauh lebih bernilai karena semata-mata senyum itu nyata atau riil sedangkan senyum bayangan Shorty tidak senilai senyum Shorty yang riil. Demikian juga dengan atribt-atribut Allah yang dikomunikasikan. Atribut-atribut itu jauh lebih agung dibandingkan dengan yang telah diberikan atau dikomunikasikan kepada manusia. Karena atribut-atribut yang dikomunikasikan Allah adalah bersifat tidak terbatas, kekal, dan tidak berubah. Demikian pula halnya dengan atribut-atribut Allah yang diberikan atau dikomunnikasikan (hikmat, kuasa, kekudusan dan sebagainya). Sebab, Allah memiliki semua atribut ini dalam kualitas yang jauh lebih agung dibandingkan dengan manusia. Dengan kata lain, hikmat Allah akan selalu merupakan hikmat yang tidak terbatas, kekal, dan tidak berubah. Demikian pula kuasa-Nya akan senantiasa merupakan kuasa yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah. Sedangkan manusia, sekalipun memiliki atribut-atribut dari Allah tetapi tetap saja atribut-atribut yang dimiliki manusia bersifat terbatas, bersifat sementara dan terus berubah. Ini sama dengan kita katakan bahwa mata, dan rambut Shorty senantiasa riil sedangkan mata dan rambut bayangannya tidak riil.
Dari penjelasan di atas, maka muncul dua pertanyaan penting.

1). Jika Allah adalah Roh, mengapa Alkitab memberitahu kita seolah-olah Allah memiliki bagian-bagian jasmaniah, seperti “tangan TuhanYosua 4:24,mata Tuhan1Raja-raja 15:5, dan Keluaran 24:10 menjelaskan bahwa bangsa Israel “melihat Allah; kaki-Nya berjejak pada sesuatu …
jawaban yang benar mengenai pertanyaan pertama adalah bahwa bagian-bagian Alkitab yang berbicara tentang Allah dengan cara seperti itu semata-mata bermaksud untuk mengungkapkan dalam bentuk pengungkapan bahasa manusia segala hal yang sulit kita pahami jika diungkapkan dengan cara lain. Akan tetapi banyak diantara pengunngkapan-pengungkapan ini berkaitan dengan hal penampakan Allah dalam rupa manusia, dan semuanya memberikan gambaran yang tepat mengenai apa yang benar-benar disaksikan oleh manusia. Sebagaimana para malaikat yang adalah roh menampakan diri mereka dengan mengambil rupa seorang manusia, demikian juga Allah melakukannya disepanjang Perjanjian Lama. Allah lakukan itu sebagai persiapan yang kemudian digenapkan dalam Tuhan Yesus sebagai seorang manusia sejati dan sekaligus Allah sejati. Tentu saja Tuhan Yesus Kristus adalah Allah, tetapi karena Dia memiliki natur manusia sejati, maka Dia  memiliki tangan, kaki dan sebagainya.

2). Jika Allah tidak berubah, mengapa Alkitab memberitahu kita seolah-olah Allah dapat berubah, seperti “maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya”, Kejadian 6:6.
Jawaban yang benar mengenai pertanyaan kedua adalah bahwa ketika Alkitab berbicara demikian tentang Allah, maka kita hendaknya segera mengingat betapa manusia sendirilah yang telah berubah. Manusia berubah dalam sikap dan hubungannya dengan Allah. Dari perubahan dalam diri manusia inilah terjadi perubahan dalam cara Allah berhubungan dengan manusia itu. Ketika manusia berubah dalam sikapnya kepada Allah, manusia yang awalnya diciptakan sangat baik, kudus tetapi kemudian berdosa terhadap Allah yang kudus, maka Allah yang kudus pasti bereaksi. Manusia yang telah berdosa pasti berhadapan dengan murka-Nya, dan reaksi Allah terhadap dosa manusia adalah wajar karena Allah itu kudus adanya. Jika Allah tidak bereaksi terhadap dosa, maka pada hakikatnya Allah tidak kudus. Tetapi yang benar adalah bahwa Allah itu kudus adanya. Jadi manusia bisa berubah, dan hubungan Allah dan manusia bisa berubah dalam pengertian cara dan tindakan Allah, tetapi Allah sendiri tidak bisa berubah.
Yang tidak bisa berubah dari Allah adalah a). Diri-Nya, Mazmur 102:26-28; Maleakhi 3:6; Yakobus 1:17. b). tujuan Allah atau maksud-maksud Allah dan janji-janji Allah, Yesaya 14:24, 27; 46:9-10. Namun perlu diingat juga bahwa sekalipun Allah tidak berubah, tetapi tindakan-Nya bisa berubah dan cara-Nya juga bisa berubah. Misalnya: Ibrani 1:1-2; Kejadian 9:12-16.

BAB II
ALLAH DALAM TIGA PRIBADI

Pertanyaan           : Apakah Ada Lebih Dari Satu Allah?
Jawabannya         : Hanya Ada Satu Allah, Yang Hidup Dan Yang Sejati.
Pertanyaan          : Ada Berapa Pribadi Dalam Allah Yang Esa?
Jawaban            : Ada Tiga Pribadi Dalam Allah Yang Esa; Allah Bapa, Allah Anak, Dan Allah Roh Kudus; dan ketiganya adalah Allah yang esa, yang sama dalam substansi, dan setara dalam kuasa-Nya, dan kemuliaan-Nya

-        Tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa. - 1Korintus 8:4.
-       Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. - Matius 28:19.
-     Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan  Roh Kudus menyertai kamu sekalian. - 2Korintus 13:13.

A.  LATAR BELAKANG PEMAKAIAN KATA TRITUNGGAL/TRINITAS

Kata “Trinitas/Tritunggal” tidak ada dalam Alkitab, namun istilah itu menjelaskan pengertian yang Alkitabiah tentang Allah Tritunggal. Kata Trinitas berasal dari kata Latin, yang berarti “ketigaan” (threeness). Dalam theology Kristen, istilah ini menjelaskan mengenai manisfetasi tiga Pribadi Allah yaitu Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, yang ketiganya adalah satu. Ketiga Pribadi Allah Tritunggal adalah satu dalam keberadaan (esensi) sejak kekekalan dan ketiganya berbeda Pribadi namun sehakekat. Ketiga pribadi ini adalah Allah yang esa, yang sama dalam substansi dan setara dalam kuasa dan kemuliaan. Sama dalam substansi berarti bahwa masing-masing Pribadi itu adalah Allah sepenuhnya.

Kata “Trinitas/Tritunggal” sudah muncul pada abad pertama. Kata ini dipakai oleh bapak-bapak gereja sebagai suatu usaha untuk membentengi gereja dari ajaran sesat yang muncul pada abad itu. Ajaran sesat yang muncul pada abad itu adalah sebagai berikut:
1
.   Monarchianism
Kelompok ini terdiri dari dua yaitu Dynamic Monarchianism dan Modalistic Monarshianism (Sabelianism).
a.    Dynamic Monarchianism mengajarkan bahwa Yesus Kristus hanyalah manusia biasa yang diberi kuasa ilahi dan diangkat ke posisi ilahi. Mereka memandang Yesus sebagai manusia biasa yang mengalami kemajuan hingga menjadi “semacam Allah”. Jadi, Yesus diadopsi dari manusia biasa menjadi Anak Allah. Kelompok ini juga memandang Roh Kudus hanya kuasa bukan Pribadi. Dengan demikian Tritunggal tidak diterima.
b.    Sedangkan Modalistic  Monarchianism (Sabelianism) mengajarkan bahwa di dalam diri Allah tidak ada perbedaan-perbedaan. Allah tidak mempunyai tiga pribadi yang berbeda melainkan tiga perwujudan. Kelompok ini beralasan bahwa dalam penciptaan Allah menyatakan diri sebagai Bapa, dalam penebusan Allah menyatakan diri sebagai Anak dan dalam pengudusan Allah menyatakan diri sebagai Roh Kudus. Ini jelas ajaran sesat.

2.   Arianisme
Kelompok yang dipimpin oleh Arius, dari sekolah Alexandria ini berpandangan bahwa Tuhan Yesus diciptakan. Karena itu, mereka (Arianisme) menyimpulkan bahwa Yesus tidak kekal. Sekalipun Dia agung namun Dia hanyalah makluk yang dilahirkan oleh Bapa pada permulaannya. Kelompok ini juga mengakui bahwa Roh Kudus diciptakan oleh Yesus. Dengan demikian Arianisme menolak Trinitas secara mutlak.
Dari hal inilah, maka Kaisar Konstantianus yang telah menjadi Kristen pada tahun 312, menghendaki diadakannya suatu konsili untuk menjaga keesaan gereja dari ajaran sesat Arianisme. Pada tahun 325, terlaksanalah konsili Nicea, namun persoalan belum selesai, maka pada tahun 381 diadakan lagi konsili konstantinopel sehingga perdebatan dapat diselesaikan. Tokoh yang berpengaruh dalam konsili ini adalah Anthanasius (296-373). Hasil yang diperoleh dalam konsili tersebut di atas adalah bahwa Tuhan Yesus setara dengan Allah Bapa.    
Perkembangan selanjutnya dari ajaran sesat diera gereja abad modern dapat terlihat dari uraian berikut, antara lain:

Pertama: dari kaum unitarianisme yang salah satu anggotanya adalah Saksi Yehovah. Saksi Yehovah ini mempercayai bahwa hanya ada satu Allah yaitu Allah Bapa atau yang mereka sebut Yehovah. Pandangan ini menolak ajaran tiga pribadi yang diajarkan Alkitab. Mereka berpandangan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama yang diciptakan oleh Allah Bapa/Yehovah dan setelah itu baru dunia ini diciptakan. Dan kesimpulan dari Saksi Yehovah adalah bahwa Yesus adalah “allah kecil” yang lebih rendah dari Allah Bapa/Yehovah.

Kedua: dari kaum Politheisme (politheis artinya banyak allah). Mereka mempercayai bahwa ada lebih dari satu keberadaan yang bisa disebut Allah. Tetapi kaum politheis ini tidak mengakui bahwa allah-allah ini memiliki substansi atau esensi yang setara/sama. Salah satu anggota dari kaum politheis ini adalah Mormonisme. Mormon meyakini bahwa Yesus adalah diperanakan, dalam pengertian Allah Bapa berhubungan fisik dengan Maria sehingga melahirkan Yesus. Menurut mereka Allah Bapa memiliki darah dan daging sehingga dapat berhubungan fisik dengan Maria.
Jika kita mengamati kedua pandangan di atas sepertinya ajaran mereka mudah untuk dipahami, namun hal itu tidak menunjukkan kebenaran mutlak dari doktrin yang mereka bangun. Doktrin Allah Tritunggal yang Alkitab ajarkan tampaknya sulit karena melampaui akal budi manusia, tetapi kita harus tetap menerimanya dan mengimani sebagai penyataan Allah kepada kita. Mungkin kita bertanya “Mengapa kita mengimani doktrin Allah Tritunggal?” Alasan yang mendasar adalah karena Alkitab tidak memberikan penjelasan apapun tentang ajaran yang dianut oleh kelompok Saksi Yehovah dan kelompok Mormonisme. Jika itu ada maka sesungguhnya hanyalah usaha untuk membelokkan iman yang sejati kepada Allah Tritunggal yang Alkitabiah.

Theologi Alkitabiah
Alkitab sangat jujur menjelaskan kepada kita, siapa Allah itu dan berada dalam Pribadi-pribadi. Penjelasan ini akan dimulai dari keesaan Allah.

Keesaan Allah
Ulangan 6:4-9 berkata Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihanilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang Ku perintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumah, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaing dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambing di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Di sini, dalam bahasa yang paling jelas diberikan ajaran bahwa Allah itu satu dan bahwa ajaran ini harus diketahui oleh umat, dibahas dan diajarkan kepada anak-anak mereka.

Dalam Perjanjian Baru juga menjelaskan kebenaran yang sama bahwa “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa”, 1Korintus 8:4. Dari ayat-ayat di atas, sepertinya trinitas tidak dimungkinkan, karena dijelaskan bahwa “Allah itu satu”. Tetapi dalam Ulangan 6:4, kata “esa” atau “satu” dalam bahasa Ibrani adalah ekhad  yang bukan berarti satu dalam pengertian mutlak, melainkan satu dalam kesatuan. Kata ini selalu digunakan ketika berbicara tentang satu tandan anggur, atau tentang umat Israel merespons sebagai satu bangsa. Penggunaan kata ini juga dapat terlihat dalam Kejadian 2:23 yang berkata “sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya dan keduanya menjadi satu daging”. Sekali lagi kata “satu” yang dipakai adalah ekhad. 
Sebenarnya dalam bahasa Ibrani, kata “satu” dalam pengertian mutlak disebut Yachid. Hal ini terdapat dalam Kejadian 22:2, 16. Kata satu yang dimaksud adalah satu mutlak. Kata ini tidak mengandung arti kejamakan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa jika Allah memang hanya satu pribadi dalam pengertian mutlak, maka Musa pasti diilhami untuk memakai kata Yachid saat menyebut Allah. Tetapi tidak demikian. Saksi Yehova sering memakai Ulangan 6:4, untuk menyalahkan ajaran Tritunggal dan membenarkan ajaran mereka yang sesat. Di dalam Perjanjian Baru, ajaran Tritunggal makin jelas bahkan Yesus sendiri mengajarkan hal itu.
Jadi, kesimpulan kita adalah bahwa sebagaimana kita mengakui bahwa HANYA Alkitablah yang berotoritas dalam gereja, dan yang memiliki wibawa tertinggi dalam setiap pengajaran gereja, maka apa yang Alkitab ajarkan kita harus ikuti, sebagaimana  Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa ALLAH ITU ESA!. Dan Alkitab juga mengajarkan kepada kita bahwa di dalam Allah yang esa itu, terdapat tiga Pribadi yang berbeda tetapi tidak bertentangan satu dengan yang lain. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah sepenuhnya Allah.
Karena itu, jangan goyah dengan ajaran sesat yang sedang berkembang. Jika ada orang (termasuk hamba Tuhan) mengajar saudara dengan memakai ayat-ayat Alkitab bahkan kadang-kadang memakai bahasa Ibrani yakni bahasa asli Perjanjian Lama ditulis atau dengan memakai bahasa Yunani, bahasa asli Perjanjian Baru ditulis, namun dalam ajarannya ia menolak Allah Tritunggal entah dengan alasan apapun, itu ajaran SESAT, Tolak dalam Nama Allah Tritunggal, pasti Ia pergi dan kalau ia tidak pergi, saudara yang harus pergi dan tinggalkan dia!.

Teks Alkitab Perjanjian Lama yang menjelaskan tentang kejamakan Allah;
Dalam Kejadian 1:2, 26; 11:7; Allah mengajak Diri-Nya sendiri dengan memakai kata “Kita”. Kata “Kita” memiliki pengrtian jamak, atau lebih dari satu.
Yesaya 6:8, Yesaya berkatalalu aku mendengar suara Tuhan berkata; ‘Siapakah yang yang akan kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku. (KJV: memakai kata “siapakah yang mau pergi untuk ‘Kami)” Baca juga ayat-ayat berikut; Keluaran 3:2-6; Hakim-hakim 13:21-22; Mazmur 33:6; Yesaya 63:10.

Teks Alkitab Perjanjian Baru. Misalnya Allah itu satu, Galatia 3:20, Yakobus 2:19, Anak, Yohanes 1:1; 14:9; Kolose 2:9; dan Roh Kudus, Kisah Para Rasul 5:2-4. 1Korintus 3:16. 
Bapa mengutus Anak, Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus, Galatia 4:4; Yohanes 15:26. Begitu juga dalam amanat baptisan harus dilaksanakan dalam nama Allah Tritunggal, Matius 29:19. Bapa, Anak dan Roh Kudus setara dalam kuasa dan kemuliaan, 2Korintus 13:14; Efesus 4:4-6; 1Petrus 1:2.
Ingat: pemakaian nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, digunakan dalam hal yang sacral/kudus yang berhubungan dengan gereja-Nya.
Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus adalah Allah yang esa, sama dalam substansi, dan setara dalam kuasa dan kemuliaan. Sama dalam Substansi berarti bahwa masing-masing Pribadi itu adalah Allah sepenuhnya. Yesus, sang Anak, juga adalah Allah sama seperti Bapa. Roh Kudus juga Allah sepenuhnya sebagaimana Bapa dan Anak. Bapa, Anak, dan Roh Kudus setara dalam kuasa dan kemuliaan. Tidak ada yang lebih kuat atau lebih layak menerima penyembahan kita daripada dua Pribadi lainnya. Kita menyembah Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai Allah.

B.  PRIBADI-PRIBADI DALAM ALLAH YANG ESA
Allah Tritunggal yang Alkitabiah adalah Allah Bapa, Allah Anak (Yesus), dan Allah Roh Kudus. Demikian penjelasan masing-masing Pribadi sesuai karya-Nya yang diajarkan oleh Alkitab.
1.   Pribadi Pertama Allah Tritunggal Adalah Allah Bapa
Alkitab menjelaskan bahwa Allah Bapa adalah Bapa bagi Yesus Kristus yang adalah Allah Anak dan Dia yang mengutus Roh Kudus kepada umat-Nya, (1Korintus 8:6). Bapa-lah yang merencanakan untuk menciptakan segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya walaupun Allah Anak dan Allah Roh Kudus juga terlibat dalam penciptaan. Allah Bapa juga yang merencanakan untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa dengan menyediakan Juruselamat, Anak-Nya sendiri untuk menggantikan mereka, (1Yohanes 4:14).
Demikianlah Penyataan Yesus tentang Allah Bapa, (Matius 5:48; 6:1, 4, 6, 8-9, 14-15, 18, 26, 32; 7:21 ) bahwa Bapa itu Ada, Sempurna dan Berkuasa. Jadi, Jika Allah Bapa ada, maka Ia berfirman. Jika Ia berfirman, maka Ia bertindak. Jika Ia bertindak, maka Ia menciptakan. Jika Ia menciptakan, maka Ia memelihara. Jika Ia memelihara, maka Ia menyelamatkan. Jika Ia menyelamatkan, maka Ia menyempurnakan seperti diri-Nya adalah sempurna. Jadi, Bapa yang telah menciptakan alam semesta sesuai rencananya yang kekal, dan yang telah menyelamatkan manusia berdosa melalui Anak-Nya, Yesus Kristus sesuai rencana-Nya, akan memelihara orang-orang pilihan-Nya melalui Allah Roh Kudus sesuai dengan maksud-Nya, (Yoh.14:16-17) sehingga mereka, orang-orang pilihan Allah Bapa akan terlindungi sampai saat memasuki kesempurnaan kebahagiaan bersama Allah Tritunggal dalam kekekalan.
2.   Pribadi Kedua Allah Tritunggal Adalah Yesus Kristus
Alkitab dimulai dengan peristiwa penciptaan alam semesta. Manusia diciptakan begitu indah dan sempurna sesuai dengan keinginan Sang Pencipta. Ditempatkanlah Adam dan Hawa dalam taman Eden dengan suatu ujian ketaatan kepada Sang Pencipta. Namun, Kejadian 3, menjelaskan bahwa Adam dan Hawa tergoda dan jatuh ke dalam dosa, karena; ketidaktaatan, keinginan menjadi seperti Allah, bebas dan memisahkan diri dari control Sang Pencipta, dan meragukan maksud baik Sang Pencipta. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah menyampaikan maksud baik-Nya yang sejak kekal sudah ditetapkan yaitu akan mengutus seorang penebus, yang melalui-Nya, Iblis ditaklukan. Pribadi yang dimaksud adalah Yesus.

a.  Yesus adalah Allah Sepenuhnya
Dalam Perjanjian Baru, kita mengetahui bahwa nubuat tersebut digenapi di dalam Yesus Kristus karena Dialah yang dijanjikan itu. Pribadi kedua Allah Tritunggal itu harus datang karena dosa membuat manusia begitu ‘payah’ dan tidak bisa menolong diri sendiri.
Akan tetapi yang menjadi perdebatan banyak orang sampai hari “Siapakah Yesus?” bahkan sampai hari ini banyak orang masih saja mempertanyakan. Bagi kita apa yang dikatakan Alkitab, itulah yang harus kita pegagng karena ALKITAB ADALAH FIRMAN ALLAH YANG TERTULIS, BENAR TANPA SALAH DALAM NASKAH ASLINYA.
Yohanes 1:1, memeritahu kita bahwa Yesus (Firman) adalah Allah. Dengan Alasan: Dia sudah ada pada mulanya, bersama-sama dengan Allah Bapa, dan Dia adalah Allah. Dia turut menciptakan segala sesuatu, bahkan memberi hidup kepada segala sesuatu yang telah diciptakan. Jadi Yesus adalah Allah, dan setara dengan Allah Bapa, bukan seperti konsep Saksi Yehovah, yang menafsirkan ayat ini secara salah sehingga mereka menyimpulkan bahwa Yesus adalah ‘allah kecil’, yang lebih rendah dari Bapa/Yehovah.
Dalam Matius 28:19, Yesus menyebut Diri-Nya sebagai Pribadi kedua dalam Allah Tritunggal. Dengan demikian Yesus hendak mengajar orang-orang percaya bahwa Yesus bukan Bapa dan Bapa bukan Yesus. Yesus berbeda dengan Bapa dalam pribadi-Nya. tetapi bukan berarti karena berbeda maka pasti ada pertentangan. Tidak!. Jika ada pertentangan itu pasti bukan Allah. Sekalipun berbeda, namun Yesus berkata “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30-36).
b.   Yesus Adalah Manusia Sepenuhnya

Inkarnasi berasal dari bahasa Latin yaitu in-carne. Dan dalam bahasa Yunani disebut en sarki yang artinya ‘dalam daging’. Yang dimaksud dengan dalam daging adalah mencakup keseluruhan diri manusia. Karena itu arti yang lebih tepat adalah menjadi manusia. Inkarnasi berbeda dengan reinkarnasi. Reinkarnasi artinya penjelmaan kembali menjadi makhluk hidup dari makhluk yang telah mati. 
Orang mungkin bertanya “Siapakah yang berinkarnasi?” jawaban yang tepat adalah Pribadi kedua Allah Tritunggal yang nama-Nya adalah Yesus. Dialah yang berinkarasi. Inkarnasi artinya menjadi manusia. Tujuan inkarnasi-Nya adalah dalam rangka menggenapkan rancangan yang sejak kekal sudah ditetapkn oleh Allah Tritunggal. Rancangan tersebut adalah menjadi manusia supaya dapat menjadi Juruselamat manusia berdosa (hanya bagi orang-orang Pilihan saja).
Bukan Allah Tritunggal yang berinkarnasi melainkan Pribadi kedua Allah Tritunggal yang menjadi manusia. Namun harus diingat bahwa Allah Bapa dan Allah Roh Kudus juga mendukung Allah Anak dalam mengerjakan karya penebusan bagi umat pilihan (Mat. 1:20; Luk. 1:35; Yoh. 1:14; Kis. 2:30; Rom. 8:3; Gal. 4:4; Fil. 2;5-7).
Dalam Yohanes 1:1, kata ‘Firman’ dalam bahasa Yunani adalah ‘logos’. Seperti frasa yang mengatakan “Firman itu telah menjadi manusia”, (Yoh.1:14).
Yang dimaksud dengan ‘Firman itu telah menjadi manusia’ adalah Anak Tunggal Bapa, (Yoh.1:14) atau Anak Tunggal Allah, (Yoh.1:18). Dan kedua ayat ini menunjuk kepada Pribadi kedua Allah Tritunggal yakni Yesus.
Siapakah Firman / Yesus itu menurut Yohanes 1:1-4? Menurut ayat ini: a). Firman itu ada dari/sejak mulanya. b). Firman itu bersama-sama dengan Allah. c). dan Firman itu adalah Allah. d). Firman itu menjadikan segala sesuatu. e). dan Firman itu memberi hidup kepada segala sesuatu yang telah dijadikan.
Perhatikan: frasa/kalimat dalam ayat ini mengalami peningkatan yang semakin jelas, bahwa Firman itu sudah ada sejak kekal (berarti tidak diciptakan), bersama-sama dengan Allah (berarti pribadi lain selain Allah Bapa), dan Firman itu adalah Allah (artinya Firman itu tidak hanya ada sejak mulanya, dan tidak hanya bersama-sama dengan Allah, melainkan Firman itu adalah Allah sendiri) dan bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus menciptakan segala sesuatu dan memberi hidup kepada segala yang telah diciptakan.      

Bagaimana Firman Itu Menjadi Manusia/Berinkarnasi?

Filipi 2:6, menjelaskan bahwa Allah Anak-lah yang menjadi manusia, bukan Allah Bapa. Sebelum Allah Anak menjadi manusia, Dia adalah Allah yang sempurna, sama seperti ketika menjadi manusiapun, Dia adalah manusia sempurna. Sebelum menjadi serupa dengan manusia, Dia berada dalam rupa Allah karena Dia adalah Allah.

Budi Asali mengatakan bahwa :
Pada waktu firman Allah menjadi manusia, keilahian Yesus tidak hilang/tidak berkurang sedikitpun, tetapi IA justru ketambahan hakekat manusia pada diriNya. Firman menjadi manusia berarti bahwa Pribadi kedua Allah Tritunggal mengambil hakekat manusia yaitu tubuh & jiwa, (manusia seutuhnya seperti kita hanya tidak berdosa karena Dia dikandung oleh Roh Kudus).  :
1.    Tanpa mengalami perubahan dalam hakekatNya
2.    Tanpa kehilangan sifat-sifatNya
3.    Tanpa menghentikan/mengurangi kegiatanNya

Dalam Filipi 2:7, rasul Paulus menjelaskan tentang cara Pribadi kedua Allah Tritunggal menjadi manusia yaitu:
-          Mengosongkan diri. Ini menjelaskan tentang penyangkalan diri yang mutlak dimana manusia tidak dapat mengenal-Nya sebagai Allah, kecuali IA sendiri dan Bapa. Namun bukan berarti bahwa Ia meninggalkan/membuang sifat-sifat ilahi-Nya.

-         Mengambil rupa seorang hamba : ungkapan ini adalah keterangan dari ungkapan “mengosongkan diri sendiri.” Tetapi bukan baru terjadi setelah pengosongan diri tetapi terjadi bersamaan. (artinya tidak hanya sekedar menjadi manusia, melainkan bahkan merendahkan diri-Nya menjadi Hamba untuk menderita mewakili manusia berdosa demi menyelamatkan manusia berdosa dari siksaan neraka akibat dosa).

-          Dan menjadi sama dengan manusia artinya dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa, IA sama dengan manusia-manusia yang lain. Ungkapan dalam keadaan sama dengan manusia bukan saja menyatakan keadaan Yesus sebagai manusia (kerendahanNya, kehinaanNya) tetapi juga keadaanNya sebagai manusia menurut suatu cara yang tertentu, yaitu dimana IA tidak berbeda dengan manusia-manusia lain, namun tidak berdosa.
Alkitab menjelaskan bahwa upah dosa adalah maut / kebinasaan kekal, (Rm. 6:23 Kej. 2:16-17) dan semua manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri apalagi orang lain. Karena itu, Pribadi Kedua Allah Tritunggal menjadi manusia supaya dapat berkomunikasi dengan manusia dan dapat mati menggantikan manusia berdosa. (inilah cara yang Allah pilih dan tidak boleh ada yang protes kepada Allah dengan berkata ‘apakah tidak ada cara lain?’).
Dan harus selalu diingat bahwa, jika Pribadi Kedua Allah Tritunggal berinkarnasi dan menebus manusia dari dosa, itu bukan sebagai suatu kewajiban / keharusan yang harus Allah lakukan, melainkan semata-mata karena kasihNya dan kehendak-Nya yang berdaulat. Karena itu, Dialah yang berdaulat untuk menebus orang-orang pilihan-Nya dan menyelamatkan mereka dari dosa.

Mengapa Yesus menjadi manusia?
a.    Karena Ia mau memikul hukuman dosa manusia (Ibr 2:14-17).  
Andaikata Ia mau memikul hukuman dosa malaikat, maka Ia harus menjadi malaikat. Tetapi karena Ia mau memikul hukuman dosa manusia, maka Ia harus menjadi manusia.
b.    Supaya bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia.  
1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.  
c.    Supaya bisa menjadi teladan bagi kita (Yoh 13:14-15).  
d.    Supaya bisa mati.  
Upah dosa ialah maut / kematian (Ro 6:23). Allah tidak bisa mati. Jadi supaya bisa memikul hukuman dosa yaitu kematian, Yesus menjadi manusia.

Di bawah ini, bagian-bagian Alkitab yang menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia yang bersatu dalam Pribadi-Nya.

Bukti-Bukti Ke-Allah-an Yesus
1) Kitab Suci secara explicit mengatakan demikian (Yes 9:5 Yoh 1:1 Ro 9:5 Fil 2:5b-7 Titus 2:13 Ibr 1:8 2Pet 1:1 1Yoh 5:20).
Beberapa dari ayat-ayat ini dijelaskan, yakni:
a) Yoh 1:1 : Kata ‘Firman’ (bahasa Yunani: LOGOS) di sini jelas menunjuk kepada Yesus. Ini terlihat dari Yoh 1:14a yang mengatakan bahwa ‘Firman itu telah menjadi manusia’ dan dari Yoh 1:14b yang menyebut-Nya sebagai ‘Anak Tunggal Allah’.
b) Tit 2:13 : Terlihat dengan jelas bahwa di sini Yesus Kristus disebut dengan sebutan ‘our great God and Savior’ (= Allah kita yang besar dan Juruselamat kita).
c) Fil 2:6-7 : Istilah ‘dalam rupa Allah’ dan ‘kesetaraan dengan Allah’ sudah secara jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi di sini akan dijelaskan hal-hal lain sehingga ayat ini menjadi dasar yang lebih kuat lagi bagi keilahian Kristus.
·         Kata-kata ‘walaupun dalam rupa Allah’ dalam Fil 2:6 diterjemahkan ‘being in the form of God’ oleh KJV.
Kata ‘being’ itu dalam bahasa Yunani adalah HUPARCHON dan ini menggambarkan seseorang sebagaimana adanya secara hakiki dan hal itu tak bisa berubah. Karena itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu ‘being in the form of God’, maka itu berarti bahwa Yesus adalah Allah secara terus-menerus dan hal ini tidak bisa berubah. Allah memang mempunyai sifat tidak bisa berubah (Mal 3:6 Maz 102:26-28 Yak 1:17), karena kalau Ia bisa berubah, itu menunjuk-kan bahwa Ia tidak sempurna.
·         Juga kalau ay 7 yang mengatakan ‘mengambil rupa seorang hamba’ diartikan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia, maka konsekwensinya, ay 6 yang mengatakan bahwa Yesus ada ‘dalam rupa Allah’ haruslah diartikan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah.

·         Disamping itu kata ‘rupa’ dalam ay 6 itu (KJV: form) dalam bahasa Yunaninya adalah MORPHE, dan seorang penafsir mengatakan bahwa kata MORPHE ini adalah bukan semata-mata suatu kemiripan lahiriah / luar, tetapi suatu persesuaian / kecocokan di dalam yang mendalam dan sungguh-sungguh. Baca juga 2Ptr. 1:1
2. Kitab Suci memberikan nama-nama ilahi untuk Yesus (Yes 9:5 Yer 23:5-6 Yer 33:14-16 Mat 1:23 2Tim 1:10 Ibr 1:8,10).
3. Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus mempunyai sifat-sifat ilahi seperti:
a) Kekal (Mikha 5:1b Yoh 1:1 Yoh 8:58 Yoh 10:10 Yoh 17:5 Ibr 1:11-12 Wah 1:8,17-18 Wah 22:13).
b) Suci / tak berdosa (2Kor 5:21 Ibr 4:15).
c) Mahakuasa: Mujijat-mujijat yang Ia lakukan, seperti membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, memberi makan 5000 orang lebih dengan 5 roti dan 2 ikan, menenangkan badai, mengubah air menjadi anggur, berjalan di atas air, mengusir setan, dsb, menunjukkan kemaha-kuasaanNya.
Memang nabi-nabi dan rasul-rasul tertentu juga melakukan banyak mujijat, tetapi ada beberapa perbedaan, yakni tidak ada nabi / rasul yang bisa melakukan mujijat sesuai kehen-daknya sendiri, tetapi Kristus bisa (Yoh 5:21), Nabi melakukan muzijat bukan dengan kuasanya sendiri tetapi dengan kuasa Allah, sedangkan rasul juga demikian karena mereka melakukan mujizat dengan menggunakan nama Yesus. Tetapi Yesus melakukan mujizat dengan kuasaNya sendiri (bdk. Yoh 10:18), dan Ia tidak pernah menggunakan nama orang lain untuk melakukan mujizat, Tidak ada seorangpun pernah melakukan mujizat sebanyak / sehebat yang Yesus lakukan (Yoh 15:24).
d) Mahatahu (Mat 9:4 Mat 12:25 Yoh 2:24-25 Yoh 6:64).
e) Mahaada.
·         Ini terlihat dari Yoh 1, yang mula-mula menyatakan bahwa Firman / Yesus itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah (Yoh 1:1), tetapi lalu menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu lalu menjadi manusia dan diam di antara kita (Yoh 1:14). Tetapi anehnya Yoh 1:18 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu masih ada di pangkuan Bapa.
·         Kemahaadaan Yesus juga jelas terlihat dari janji yang Ia berikan dalam Mat 18:20 dan Mat 28:20b. Dengan adanya janji seperti itu, kalau Ia tidak mahaada, maka Ia pasti adalah seorang pendusta!
f) Tidak berubah (Ibr 13:8).

Bukti-Bukti Ke-Manusia-an Yesus:
1). Ia disebut ‘orang / seorang manusia’ (Yoh 8:40 Kis 2:22 Ro 5:15 1Kor 15:21).
2). Ia menyebut diriNya sendiri ‘Anak Manusia’ (Mat 24:44).
3). Kitab Suci mengatakan bahwa Ia telah menjadi manusia / daging (Yoh 1:14 1Tim 3:16 Ibr 2:14 1Yoh 4:2).
Semua ayat-ayat ini sebetulnya terjemahan hurufiahnya menggunakan kata ‘daging’. Kata ‘daging’ ini bukan hanya menunjuk pada daging / tubuh manusia, tetapi pada seluruh manusia.
4). Kitab Suci menggambarkan Kristus sebagai seseorang yang:
a) Mempunyai tubuh (darah, daging, dan tulang) dan jiwa / roh (Mat 26:26,28 Luk 24:39 Ibr 2:14).
b) Mempunyai jiwa / roh (Mat 26:38 Mat 27:50 Luk 23:46 Yoh 11:33 Yoh 12:27 Yoh 13:21 1Yoh 3:16).
c) Mengalami pertumbuhan / perkembangan (Luk 2:40,52).
d) Mengalami segala sesuatu yang dialami oleh manusia-manusia yang lain (kecuali dalam hal melakukan dosa), seperti: lahir (Luk 2:7), lapar (Mat 4:2), haus (Yoh 4:7 Yoh 19:28), letih (Yoh 4:6), tidur (Mat 8:24), penderitaan (Ibr 2:10,18 Ibr 5:8), dan mati (Yoh 19:30).

c. Karya Yesus Kristus
Karya Yesus Kristus dijabarkan dalam ketiga jabatanNya, yakni :
1.    Jabatan KeNabian
Istilah nabi dalam PL : nabhi, ro’eh, dan chozeh, yakni manusia Allah, utusan Allah, dan pengawal. Sedangkan dalam PB  dipakai kata Prophetes, yakni nabi adalah seorang yang berbicara secara langsung dari Tuhan. Dari istilah-istilah yang dipakai kita dapat menyimpulkan bahwa seorang nabi adalah:
1.    Seorang Yang Datang Dan Membawa Berita Dari Allah Bagi Umatnya
2.    Seorang Yang Menerima Wahyu Dari Allah
3.    Seorang Yang Berbicara Secara Langsung Dari Allah
Kristus melaksanakan jabatan sebagai seorang nabi, dengan menyatakan kepada kita, melalui firman dan rohNya, kehendak Allah bagi keselamatan kita.
2.    Jabatan KeImaman
Kata Imam dalam PL : Kohen yang menunjukkan fungsi sipil maupun fungsi dalam peribahan, (Band. I Raj.4:5; II Sam.8:18; 20:26). Kata ini selalu menunjukkan arti tentang seseorang yang memegang jabatan yang mulia dan penuh tanggung jawab, dan mempunyai otoritas atas orang-orang lain, dan berarti petugas dalam peribadahan. Kata dalam PB untuk Imam adalah hierus yang berarti “ia yang perkasa”, dan kemudian berarti “seseorang yang sakral”, “seorang yang mempersembahkan diri kepada Tuhan” .
Tugas imam :
1. Memberikan persembahan dan korban karena dosa
2. Bersyafaat bagi umat (Ibr. 7:25)
3. Memberkati mereka dalam nama Tuhan (Im. 9:22)
Kristus melaksanakan jabatannya sebagai imam dengan mempersembahkan dirinya sendiri (cukup hanya) satu kali sebagai korban untuk memuaskan keadilan ilahi dan mendamaikan kita dengan Allah dan terus-menerus menjadi pengantara bagi kita
3.    Jabatan sebagai Raja
Yesus Adalah Allah dan Manusia. Ia mempunyai kuasa, bahkan kuasa tidak ditandingi. Segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan Bapa kepada-Nya. Takhta-Nya ditetapkan di surga dan KerajaanNya tidak berkesudahan, (Maz. 103:19). 
Jadi, Pribadi kedua dari Allah Tritunggal adalah Allah Anak Yaitu Yesus. Allah Anak selalu hidup. Ketika Dia lahir sebagai bayi manusia di dalam kandang, Dia mengambil natur manusia tetapi itu bukanlah awal kehidupan-Nya. Dari dulu Dia selalu hidup sebagai Allah. Karena Allah Anak lahir sebagai manusia, maka kita dapat melihat bagaiman rupa Allah yang tidak tampak itu. (kita, yang tidak hidup pada masa ketika Yesus ada di bumi, dapat membaca kisah-Nya dalam Alkitab dan melihat seperti apa Allah itu). Dalam Kolose 1:15-16, menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan untuk kemuliaan Allah. Dan Kolose 1:19-20, menjelaskan bahwa melalui Yesuslah, Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya. 

c.   Pribadi Ketiga Allah Tritunggal Adalah Roh Kudus
Roh Kudus adalah Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Anak. Roh Kudus juga terlibat dalam karya penciptaan, dan Dialah yang mengilhami penulisan Alkitab. (itu berarti bahwa Dia mengarahkan orang-orang yang menulis sehingga apa yang mereka tulis adalah Firman Allah.) Roh Kudus berperan sangat aktif dalam karya penyelamatan umat Allah. Dialah yang membuat seseorang dilahirkan kembali sehingga ia mampu mempercayai Yesus, (Yohanes 3:3-5). Roh Kudus hidup dalam umat-Nya dan mendorong mereka bertumbuh semakin menyerupai Yesus, (Galatia 5:22-23).
(pembahasan tentang Roh Kudus dibahas secara dalam artikel “DOKTRIN ROH KUDUS”)


BAB III
SIMPULAN

1.   Hanya ada satu Allah yang hidup dan yang sejati, yang eksis dalam tiga Pribadi; Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.
“TUHANlah Allah, dan tidak ada yang lain” (1Raj. 8:60). “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’ baik di Sorga, maupun di bumi – dan memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa” (1Kor. 8:5-6). “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah lain selain dari pada-Ku” (Yes. 44:6). Tidak ada kebenaran yang begitu tegas dan kuat diajarkan dalam Alkitab dibandingkan kebenaran ini. Hanya ada satu Allah yang benar-benar eksis.
2.   Alkitab juga dengan jelas mengajarkan bahwa bukan hanya Bapa yang disebut Allah, tetapi juga Anak dan Roh Kudus.
Ada beberapa ayat Alkitab yang menjelaskan kepada kita bahwa Bapa adalah Allah. Demikian juga dengan Anak adalah Allah. “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh.1:18). Dalam Mazmur 45:7, kita membaca mengenai Sang Mesias: “Tahtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya.” Dan dalam Yesaya 9:5 tertulis: “Seorang putra telah diberikan untuk kita … dan namanya disebutkan orang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa …” Kemudian dalam Perjanjian Baru, kita membaca bahwa “Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). Dan ketika Thomas yang “peragu” akhirnya tiba pada kebenaran yang sejati; ia jatuh tersungkur di hadapan Yesus serta berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!”(Yoh. 20:28). Dengan demikian Kristus Sang Anak, tanpa perlu diragukan lagi, memang adalah Allah. Selain itu kita juga dapat melihat dalam Perjanian Baru bahwa Kristus memiliki atribut-atribut.
3.   Alkitab juga menjelaskan bahwa ketiga-Nya merupakan pribadi-pribadi yang berbeda, namun setara dalam kuasa dan kemuliaan.
Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus berbeda secara pribadi tetapi setara dalam kuasa dan kemuliaan.  Allah Bapa mengutus Allah Anak ke dalam dunia, (Mrk. 9:37; Mat. 10:40; Gal. 4:4). Allah Bapa bersama-sama dengan Allah Anak mengutus Allah Roh Kudus, (Yoh. 14:26; 15:26; 16:7). Kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memikirkan hubungan-hubungan antar Pribadi. Yang Alkitab ajarkan adalah bahwa Allah Anak tunduk kepada Allah Bapa karena Allah Bapa yang mengutus-Nya. Dan Allah Roh Kudus tunduk kepada Allah Bapa dan Allah Anak, karena Ia diutus ke dalam dunia oleh Bapa dan Anak. Akan tetapi kita harus ingat bahwa ketika kita membicarakan ketundukan antar Pribadi bukan berarti bahwa kita memaksudkan ketidaksetaraan. Bagaimanapun juga Pribadi-Pribadi Allah ini sama dalam substansi/masing-masing adalah Allah sepenuhnya karena itu Mereka setara dalam kuasa dan kemuliaan. Dan penekanan selanjutnya dari Alkitab adalah bahwa dalam karya Allah, Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus bekerja bersama-sama.
Contoh:     
Dalam Penciptaan; dikatakan tentang Allah Bapa, “Dahulu sudah Kau letakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu” (Mzm. 102:26). Dan “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Dan tentang Allah Anak, “Karena di dalam Dialah (Yesus) telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan (Kol. 1:16)” dan “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3). Ada tertulis tentang Roh Kudus, “Roh Allah telah membuat aku” (Ayb. 33:4).
Dalam Inkarnasi: dikatakan bahwa tiga Pribadi Allah yang esa bekerja bersama-sama, (Luk.1:35). Pada saat Yesus dibaptis ketiga Pribadi hadir; Anak keluar dari air, Roh turun dalam bentuk seekor merpati, dan suara Bapa terdengar dari langit menyatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:16-17). Demikian juga dalam hal Pendamaian dan kebangkitan, ketiga Pribadi Allah yang esa bekerja bersama-sama, Ibr. 9:14; Kis. 2:32; Yoh. 10:17-18; Rm. 1:4.
Pertanyaan terakhir: “Siapakah yang harus kita sembah?”
Alkitab memberitahu kita bahwa:
Bapa adalah Allah dan bahwa kita harus menyembah-Nya, Efesus 4:6; Yohanes 4:23.
Yesus, Allah Anak, adalah Allah sepenuhnya. Segala kuasa dan kemuliaan adalah milik-Nya dan Dia layak kita sembah, Matius 1:23; Mazmur 2:10-12.
Roh Kudus juga adalah Allah sepenuhnya, dan Dia layak menerima penyembahan dan pujian orang pilihan Allah, 2Korintus 3:17-18.
Dengan demikian, nyatalah keunggulan iman kepada Allah Tritunggal bahwa “kita dipilih sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya” (1Ptr. 1:2). Kita juga tidak terkejut bahwa kita diutus ke dalam dunia untuk “menjadikan semua bangsa murid-Ku dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19).
-- AMIN --