BAB I
MENGENAL
ALLAH
Pertanyaan :Apakah
Allah Itu?
Jawabannya :Allah
adalah Roh, yang tidak terbatas, yang kekal, dan yang tidak berubah; dalam keberadaan-Nya, hikmat-Nya,
kuasa-Nya, kekudusan-Nya, keadilan-Nya, kebaikan-Nya, dan kebenaran-Nya.
-
Allah itu Roh dan barangsiapa
menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran, Yohanes 4:24.
-
Sebelum gunung-gunung dilahirkan,
dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai
selama-lamanya Engkaulah Allah, Mazmur 90:2.
-
Bahwasannya Aku, TUHAN, tidak
berubah, Maleakhi 3:6.
-
Firman Allah kepada Musa: “AKU
ADALAH AKU”, (Keluaran 3:14). Besarlah Tuhan kita … kebijaksanaan-Nya tak
terhingga, (Mazmur 147:5). Dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru
siang dan malam: “kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa…”, (Wahyu
4:8). Siapakah yang tidak takut ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu?
Sebab Engkau saja yang kudus …, (Wahyu 15:4). Tuhan, Allah penyayang dan
pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya ….tetapi tidaklah
sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan
kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya …, (Keluaran 34:6-7).
Yesus
menyatakan bahwa “Allah itu Roh”, Yohanes
4:24. Allah adalah Roh, yakni Roh yang memiliki sejumlah atribut (karakteristik/kualitas) khusus yang
membedakan-Nya dengan keberadaan lain. Malaikat adalah roh, manusia juga
memiliki roh. Tetapi malaikat dan roh manusia terbatas. Karena itu, kita harus
mengakui bahwa Allah itu Roh yang tidak terbatas.
Manusia
memiliki roh yang bersifat nonmaterial; tidak dapat lihat, atau diraba, atau
ditimbang, atau diukur. Roh manusia dapat dibandingkan dengan Allah, karena
manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Karena
Allah itu Roh, maka Allah tidak memiliki tubuh jasmani seperti yang dimiliki
manusia. Allah tidak dapat dilihat bahkan tidak akan pernah dilihat oleh
manusia dengan mata jasmani, Yohanes
1:18; 1Yohanes 4:12. Dalam segala hal manusia tidak dapat melihat Allah,
bahkan jika berusaha untuk menampakan Allah dalam bentuk gambar atau
patung sudah merupakan dosa. Nabi Yesaya
mengatakan “jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang kamu anggap
serupa dengan Dia?”, Yesaya
40:18. “arahkanlah matamu ke langit,” kata Yesaya untuk menjawab pertanyaannya sendiri,
“dan
lihatlah; siapa yang menciptakan semua bintang itu”, Yesaya 40:26.
Dengan
demikian satu-satunya cara untuk “melihat Allah” adalah secara tidak langsung.
Kita dapat melihat-Nya semata-mata melalui “refleksi”
dari keberadaan-Nya di dalam berbagai ciptaan-Nya.
Ada
satu gambaran dalam buku katekismus, yang dapat kita pakai untuk mendapatkan
sedikit pemahaman tentang kebenaran di atas.
Ada
seorang laki-laki bernama Shorty, sedang melihat bayangannya sendiri dalam
sebuah cermin. Dengan jelas akan tampak
dua kebenaran di sini.
Pertama:
kita melihat bahwa keduanya (Shorty dan bayangannya) sama sekali berbeda,
karena yang satu nyata / hidup, sementara yang satu tidak.
Kedua:
kita melihat bahwa keduanya (Shorty dan bayangannya) sama persis, karena
bayangan tersebut memang merupakan tiruan Shorty dalam setiap detailnya.
Alkitab
menjelaskan kepada kita bahwa Allah memiliki atribut-atribut (karakter/kualitas),
ada yang dapat dikomunikasikan atau dibagikan seperti: keberadaan-Nya,
hikmat-Nya, kuasa-Nya, kekudusan-Nya, keadilan-Nya, kebaikan-Nya,
kebenaran-Nya. Sedangkan ada juga atribut (karakter/kualitas) yang tidak
dikomunikasikan atau dibagikan misalnya: Allah adalah Roh, Allah tidak
terbatas, Allah kekal, Allah tidak berubah.
Sementara
manusia, diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya, memiliki jiwa yang hidup,
manusia terbatas, manusia hanya sementara, manusia dapat berubah.
Demikian
pula halnya ketika membandingkan Allah dengan manusia yang telah diciptakan-Nya
menurut gambar-Nya. Kita akan melihat kedua hal tersebut di atas.
Pertama:
kita melihat bahwa Allah sama sekali
berbeda dengan manusia.
Kedua:
kita juga melihat bahwa manusia telah diciptakan
menurut gambar Allah.
Penjelasannya:
Kita
dapat melihat bahwa Allah memiliki sejumlah atribut (karakteristik/kualitas)
tertentu yang tidak dapat dibagikan-Nya kepada manusia. Misalnya: Allah tidak terbatas, sedangkan manusia
terbatas. Allah itu kekal, sedangkan
manusia hanya sementara/fana. Allah tidak
berubah, sedangkan manusia selalu berubah. Atribut-atribut yang tidak
dibagikan itu, dipertankan-Nya menjadi milik-Nya sendiri bagi Diri-Nya. Hal ini
sama dengan mengatakan bahwa Shorty tidak membagi tubuh jasmaninya yang solid
(utuh dan berkualitas) kepada bayangannya yang ada di cermin. Namun kita juga
melihat bahwa Allah memiliki atribut-atribut tertentu yang memang dibagikan-Nya
atau dikomunikasikan-Nya kepada manusia, artibut-atribut itu dimiliki manusia
sejak manusia diciptakan dan sebelum jatuh ke dalam dosa. Sama halnya dengan
Shorty, memberi kepada bayangannya warna rambut yang sama, senyum yang sama dan
sebagainya, sehingga bayangan Shorty sama seperti Shorty yang nyata.
Tetapi
sekarang kita sampai pada suatu hal yang paling sulit namun penting yakni
atribut-atribut Allah yang dibagikan atau dikomunikasikan. Akan tetapi, tetap
saja kita harus menyadari bahwa ada perbedaan antara Allah dan manusia
sekalipun manusia diciptakan menurut gambar-Nya, seperti halnya Shorty dan
bayangannya di cermin. Bukankah senyum
Shorty dan senyum dari bayangannya Shorty di cermin sama? Tidak. Sekalipun
bayangan Shorty adalah diberikan oleh Shorty yang asli atau riil, namun tetap
saja berbeda. Perbedaannya adalah senyum Shorty itu nyata, sedangkan senyum
bayangan Shorty dalam cermin tidak lain adalah seulas senyum dari bayangan itu.
Senyum Shorty jauh lebih bernilai karena semata-mata senyum itu nyata atau riil
sedangkan senyum bayangan Shorty tidak senilai senyum Shorty yang riil.
Demikian juga dengan atribt-atribut Allah yang dikomunikasikan. Atribut-atribut
itu jauh lebih agung dibandingkan dengan yang telah diberikan atau
dikomunikasikan kepada manusia. Karena atribut-atribut yang dikomunikasikan
Allah adalah bersifat tidak terbatas, kekal, dan tidak berubah. Demikian pula
halnya dengan atribut-atribut Allah yang diberikan atau dikomunnikasikan
(hikmat, kuasa, kekudusan dan sebagainya). Sebab, Allah memiliki semua atribut
ini dalam kualitas yang jauh lebih agung dibandingkan dengan manusia. Dengan
kata lain, hikmat Allah akan selalu merupakan hikmat yang tidak terbatas,
kekal, dan tidak berubah. Demikian pula kuasa-Nya akan senantiasa merupakan
kuasa yang tidak terbatas, kekal dan tidak berubah. Sedangkan manusia,
sekalipun memiliki atribut-atribut dari Allah tetapi tetap saja atribut-atribut
yang dimiliki manusia bersifat terbatas, bersifat sementara dan terus berubah.
Ini sama dengan kita katakan bahwa mata, dan rambut Shorty senantiasa riil
sedangkan mata dan rambut bayangannya tidak riil.
Dari
penjelasan di atas, maka muncul dua pertanyaan penting.
1).
Jika Allah adalah Roh, mengapa Alkitab memberitahu kita seolah-olah Allah
memiliki bagian-bagian jasmaniah, seperti “tangan Tuhan” Yosua 4:24, ”mata Tuhan”1Raja-raja 15:5, dan Keluaran
24:10 menjelaskan bahwa bangsa Israel “melihat Allah; kaki-Nya berjejak pada
sesuatu …”
jawaban
yang benar mengenai pertanyaan pertama adalah bahwa bagian-bagian Alkitab yang
berbicara tentang Allah dengan cara seperti itu semata-mata bermaksud untuk
mengungkapkan dalam bentuk pengungkapan bahasa manusia segala hal yang sulit
kita pahami jika diungkapkan dengan cara lain. Akan tetapi banyak diantara
pengunngkapan-pengungkapan ini berkaitan dengan hal penampakan Allah dalam rupa
manusia, dan semuanya memberikan gambaran yang tepat mengenai apa yang
benar-benar disaksikan oleh manusia. Sebagaimana para malaikat yang adalah roh
menampakan diri mereka dengan mengambil rupa seorang manusia, demikian juga
Allah melakukannya disepanjang Perjanjian Lama. Allah lakukan itu sebagai
persiapan yang kemudian digenapkan dalam Tuhan Yesus sebagai seorang manusia
sejati dan sekaligus Allah sejati. Tentu saja Tuhan Yesus Kristus adalah Allah,
tetapi karena Dia memiliki natur manusia sejati, maka Dia memiliki tangan, kaki dan sebagainya.
2).
Jika
Allah tidak berubah, mengapa Alkitab memberitahu kita seolah-olah Allah dapat
berubah, seperti “maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan
hal itu memilukan hati-Nya”, Kejadian
6:6.
Jawaban
yang benar mengenai pertanyaan kedua adalah bahwa ketika Alkitab berbicara
demikian tentang Allah, maka kita hendaknya segera mengingat betapa manusia
sendirilah yang telah berubah. Manusia berubah dalam sikap dan hubungannya
dengan Allah. Dari perubahan dalam diri manusia inilah terjadi perubahan dalam
cara Allah berhubungan dengan manusia itu. Ketika manusia berubah dalam
sikapnya kepada Allah, manusia yang awalnya diciptakan sangat baik, kudus
tetapi kemudian berdosa terhadap Allah yang kudus, maka Allah yang kudus pasti
bereaksi. Manusia yang telah berdosa pasti berhadapan dengan murka-Nya, dan
reaksi Allah terhadap dosa manusia adalah wajar karena Allah itu kudus adanya.
Jika Allah tidak bereaksi terhadap dosa, maka pada hakikatnya Allah tidak
kudus. Tetapi yang benar adalah bahwa Allah itu kudus adanya. Jadi manusia bisa
berubah, dan hubungan Allah dan manusia bisa berubah dalam pengertian cara dan
tindakan Allah, tetapi Allah sendiri tidak bisa berubah.
Yang
tidak bisa berubah dari Allah adalah a). Diri-Nya, Mazmur 102:26-28;
Maleakhi 3:6; Yakobus 1:17. b). tujuan Allah atau maksud-maksud Allah dan janji-janji Allah, Yesaya 14:24, 27; 46:9-10. Namun perlu
diingat juga bahwa sekalipun Allah tidak berubah, tetapi tindakan-Nya bisa berubah dan cara-Nya juga bisa berubah.
Misalnya: Ibrani 1:1-2; Kejadian
9:12-16.
BAB II
ALLAH
DALAM TIGA PRIBADI
Pertanyaan : Apakah Ada Lebih Dari Satu Allah?
Jawabannya :
Hanya Ada Satu Allah, Yang Hidup Dan Yang Sejati.
Pertanyaan
: Ada Berapa Pribadi Dalam Allah
Yang Esa?
Jawaban :
Ada Tiga Pribadi Dalam Allah Yang Esa; Allah Bapa, Allah Anak, Dan Allah Roh
Kudus; dan ketiganya adalah Allah yang esa, yang sama dalam substansi, dan
setara dalam kuasa-Nya, dan kemuliaan-Nya
- Tidak ada Allah
lain dari pada Allah yang esa. - 1Korintus 8:4.
- Karena itu
pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama
Bapa, Anak, dan Roh Kudus. - Matius 28:19.
- Kasih karunia
Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. -
2Korintus 13:13.
A. LATAR
BELAKANG PEMAKAIAN KATA TRITUNGGAL/TRINITAS
Kata “Trinitas/Tritunggal”
tidak ada dalam Alkitab, namun istilah itu menjelaskan pengertian yang
Alkitabiah tentang Allah Tritunggal. Kata Trinitas berasal dari kata Latin,
yang berarti “ketigaan” (threeness). Dalam theology Kristen, istilah ini
menjelaskan mengenai manisfetasi tiga Pribadi Allah yaitu Allah Bapa, Allah
Anak, dan Allah Roh Kudus, yang ketiganya adalah satu. Ketiga Pribadi Allah
Tritunggal adalah satu dalam keberadaan (esensi) sejak kekekalan dan
ketiganya
berbeda Pribadi namun sehakekat. Ketiga pribadi ini adalah Allah
yang esa, yang sama dalam substansi dan setara dalam kuasa dan kemuliaan. Sama dalam substansi berarti bahwa masing-masing Pribadi itu adalah Allah
sepenuhnya.
Kata “Trinitas/Tritunggal”
sudah muncul pada abad pertama. Kata ini dipakai oleh bapak-bapak gereja sebagai
suatu usaha untuk membentengi gereja dari ajaran sesat yang muncul pada abad
itu. Ajaran sesat yang muncul pada abad itu adalah sebagai berikut:
1
.
Monarchianism
Kelompok ini
terdiri dari dua yaitu Dynamic
Monarchianism dan Modalistic
Monarshianism (Sabelianism).
a.
Dynamic
Monarchianism
mengajarkan bahwa Yesus Kristus hanyalah manusia biasa yang diberi kuasa ilahi
dan diangkat ke posisi ilahi. Mereka memandang Yesus sebagai manusia biasa yang
mengalami kemajuan hingga menjadi “semacam Allah”. Jadi, Yesus diadopsi dari
manusia biasa menjadi Anak Allah. Kelompok ini juga memandang Roh Kudus hanya
kuasa bukan Pribadi. Dengan demikian Tritunggal tidak diterima.
b.
Sedangkan
Modalistic Monarchianism (Sabelianism)
mengajarkan bahwa di dalam diri Allah tidak ada perbedaan-perbedaan. Allah tidak mempunyai tiga pribadi yang
berbeda melainkan tiga perwujudan. Kelompok ini beralasan bahwa dalam
penciptaan Allah menyatakan diri sebagai Bapa, dalam penebusan Allah menyatakan
diri sebagai Anak dan dalam pengudusan Allah menyatakan diri sebagai Roh Kudus.
Ini jelas ajaran sesat.
2.
Arianisme
Kelompok yang
dipimpin oleh Arius, dari sekolah Alexandria ini berpandangan bahwa Tuhan Yesus
diciptakan. Karena itu, mereka (Arianisme)
menyimpulkan bahwa Yesus tidak kekal. Sekalipun Dia agung namun Dia hanyalah
makluk yang dilahirkan oleh Bapa pada permulaannya. Kelompok ini juga mengakui
bahwa Roh Kudus diciptakan oleh Yesus. Dengan demikian Arianisme menolak
Trinitas secara mutlak.
Dari hal inilah,
maka Kaisar Konstantianus yang telah menjadi Kristen pada tahun 312, menghendaki
diadakannya suatu konsili untuk menjaga keesaan gereja dari ajaran sesat
Arianisme. Pada tahun 325, terlaksanalah konsili
Nicea, namun persoalan belum selesai, maka pada tahun 381 diadakan lagi
konsili konstantinopel
sehingga perdebatan dapat diselesaikan. Tokoh yang berpengaruh dalam konsili
ini adalah Anthanasius (296-373). Hasil yang diperoleh dalam konsili tersebut
di atas adalah bahwa Tuhan Yesus setara dengan Allah Bapa.
Perkembangan
selanjutnya dari ajaran sesat diera gereja abad modern dapat terlihat dari
uraian berikut, antara lain:
Pertama: dari kaum unitarianisme yang salah satu
anggotanya adalah Saksi Yehovah.
Saksi Yehovah ini mempercayai bahwa hanya ada satu Allah yaitu Allah Bapa atau
yang mereka sebut Yehovah. Pandangan ini menolak ajaran tiga pribadi
yang diajarkan Alkitab. Mereka berpandangan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama
yang diciptakan oleh Allah Bapa/Yehovah dan setelah itu baru dunia ini
diciptakan. Dan kesimpulan dari Saksi Yehovah adalah bahwa Yesus adalah “allah kecil” yang lebih rendah dari
Allah Bapa/Yehovah.
Kedua: dari kaum Politheisme (politheis
artinya banyak allah).
Mereka mempercayai bahwa ada lebih dari satu keberadaan yang bisa disebut
Allah. Tetapi kaum politheis ini tidak mengakui bahwa allah-allah ini memiliki
substansi atau esensi yang setara/sama. Salah satu anggota dari kaum politheis
ini adalah Mormonisme. Mormon
meyakini bahwa Yesus adalah diperanakan, dalam pengertian Allah Bapa
berhubungan fisik dengan Maria sehingga melahirkan Yesus. Menurut mereka
Allah Bapa memiliki darah dan daging sehingga dapat berhubungan fisik dengan
Maria.
Jika kita
mengamati kedua pandangan di atas sepertinya ajaran mereka mudah untuk
dipahami, namun hal itu tidak menunjukkan kebenaran mutlak dari doktrin yang mereka
bangun. Doktrin Allah Tritunggal yang Alkitab ajarkan tampaknya sulit karena
melampaui akal budi manusia, tetapi kita harus tetap menerimanya dan mengimani
sebagai penyataan Allah kepada kita. Mungkin kita bertanya “Mengapa kita
mengimani doktrin Allah Tritunggal?” Alasan yang mendasar adalah karena Alkitab
tidak memberikan penjelasan apapun tentang ajaran yang dianut oleh kelompok
Saksi Yehovah dan kelompok Mormonisme. Jika itu ada maka sesungguhnya hanyalah
usaha untuk membelokkan iman yang sejati kepada Allah Tritunggal yang
Alkitabiah.
Theologi Alkitabiah
Alkitab sangat jujur
menjelaskan kepada kita, siapa Allah itu dan berada dalam Pribadi-pribadi.
Penjelasan ini akan dimulai dari keesaan Allah.
Keesaan
Allah
Ulangan
6:4-9
berkata “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihanilah Tuhan Allahmu dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang Ku
perintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau
mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila
engkau duduk di rumah, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau
berbaing dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai
tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambing di dahimu, dan haruslah
engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”
Di sini, dalam
bahasa yang paling jelas diberikan ajaran bahwa Allah itu satu dan bahwa ajaran
ini harus diketahui oleh umat, dibahas dan diajarkan kepada anak-anak mereka.
Dalam Perjanjian
Baru juga menjelaskan kebenaran yang sama bahwa “tidak ada berhala di dunia dan
tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa”, 1Korintus 8:4. Dari ayat-ayat di atas,
sepertinya trinitas tidak dimungkinkan, karena dijelaskan bahwa “Allah
itu satu”. Tetapi dalam Ulangan
6:4, kata “esa” atau “satu” dalam bahasa Ibrani adalah ekhad
yang bukan berarti satu dalam
pengertian mutlak, melainkan satu dalam kesatuan. Kata ini selalu digunakan
ketika berbicara tentang satu tandan anggur, atau tentang umat Israel
merespons sebagai satu bangsa. Penggunaan kata ini juga dapat terlihat
dalam Kejadian 2:23 yang berkata “sebab
itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan
istrinya dan keduanya menjadi satu daging”. Sekali lagi kata “satu”
yang dipakai adalah ekhad.
Sebenarnya dalam
bahasa Ibrani, kata “satu” dalam pengertian mutlak disebut Yachid. Hal ini terdapat dalam Kejadian
22:2, 16. Kata satu yang dimaksud adalah satu mutlak. Kata ini tidak
mengandung arti kejamakan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa jika Allah memang hanya
satu pribadi dalam pengertian mutlak, maka Musa pasti diilhami untuk memakai
kata Yachid saat menyebut Allah.
Tetapi tidak demikian. Saksi Yehova sering memakai Ulangan 6:4, untuk menyalahkan ajaran Tritunggal dan membenarkan
ajaran mereka yang sesat. Di dalam Perjanjian Baru, ajaran Tritunggal makin
jelas bahkan Yesus sendiri mengajarkan hal itu.
Jadi, kesimpulan
kita adalah bahwa sebagaimana kita mengakui bahwa HANYA Alkitablah yang
berotoritas dalam gereja, dan yang memiliki wibawa tertinggi dalam setiap
pengajaran gereja, maka apa yang Alkitab ajarkan kita harus ikuti, sebagaimana Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa ALLAH ITU ESA!. Dan Alkitab juga
mengajarkan kepada kita bahwa di dalam Allah yang esa itu, terdapat tiga
Pribadi yang berbeda tetapi tidak bertentangan satu dengan yang lain. Bapa,
Anak, dan Roh Kudus adalah sepenuhnya Allah.
Karena itu,
jangan goyah dengan ajaran sesat yang sedang berkembang. Jika ada orang
(termasuk hamba Tuhan) mengajar saudara dengan memakai ayat-ayat Alkitab bahkan
kadang-kadang memakai bahasa Ibrani yakni bahasa asli Perjanjian Lama ditulis
atau dengan memakai bahasa Yunani, bahasa asli Perjanjian Baru ditulis, namun dalam
ajarannya ia menolak Allah Tritunggal entah dengan alasan apapun, itu
ajaran SESAT, Tolak dalam Nama Allah Tritunggal, pasti Ia pergi dan kalau ia
tidak pergi, saudara yang harus pergi dan tinggalkan dia!.
Teks Alkitab
Perjanjian Lama yang menjelaskan tentang kejamakan Allah;
Dalam
Kejadian 1:2, 26; 11:7; Allah
mengajak Diri-Nya sendiri dengan memakai kata “Kita”. Kata “Kita” memiliki
pengrtian jamak, atau lebih dari
satu.
Yesaya
6:8, Yesaya
berkata “lalu aku mendengar suara Tuhan berkata; ‘Siapakah yang yang akan
kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku. (KJV: memakai kata “siapakah
yang mau pergi untuk ‘Kami’)” Baca juga ayat-ayat berikut; Keluaran 3:2-6; Hakim-hakim 13:21-22;
Mazmur 33:6; Yesaya 63:10.
Teks Alkitab
Perjanjian Baru.
Misalnya Allah itu satu, Galatia
3:20, Yakobus 2:19, Anak,
Yohanes 1:1; 14:9; Kolose 2:9; dan Roh Kudus, Kisah Para Rasul 5:2-4.
1Korintus 3:16.
Bapa mengutus
Anak, Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus,
Galatia 4:4; Yohanes 15:26. Begitu juga
dalam amanat baptisan harus dilaksanakan dalam nama Allah Tritunggal, Matius 29:19. Bapa, Anak dan Roh
Kudus setara dalam kuasa dan kemuliaan,
2Korintus 13:14; Efesus 4:4-6; 1Petrus 1:2.
Ingat:
pemakaian
nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, digunakan dalam hal yang sacral/kudus yang
berhubungan dengan gereja-Nya.
Allah Bapa,
Allah Anak (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus adalah Allah yang esa, sama
dalam substansi, dan setara dalam kuasa dan kemuliaan. Sama dalam Substansi berarti bahwa masing-masing Pribadi itu
adalah Allah sepenuhnya. Yesus, sang Anak, juga adalah Allah sama seperti Bapa.
Roh Kudus juga Allah sepenuhnya sebagaimana Bapa dan Anak. Bapa, Anak, dan Roh
Kudus setara dalam kuasa dan kemuliaan. Tidak ada yang lebih kuat atau lebih
layak menerima penyembahan kita daripada dua Pribadi lainnya. Kita menyembah
Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai Allah.
B. PRIBADI-PRIBADI DALAM ALLAH YANG
ESA
Allah Tritunggal yang
Alkitabiah adalah Allah Bapa, Allah Anak (Yesus), dan Allah Roh Kudus. Demikian
penjelasan masing-masing Pribadi sesuai karya-Nya yang diajarkan oleh Alkitab.
1. Pribadi Pertama Allah Tritunggal Adalah
Allah Bapa
Alkitab
menjelaskan bahwa Allah Bapa adalah Bapa bagi Yesus Kristus yang adalah Allah
Anak dan Dia yang mengutus Roh Kudus kepada umat-Nya, (1Korintus 8:6). Bapa-lah yang merencanakan untuk menciptakan
segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya walaupun Allah Anak dan Allah Roh Kudus juga
terlibat dalam penciptaan. Allah Bapa juga yang merencanakan untuk
menyelamatkan umat-Nya dari dosa dengan menyediakan Juruselamat, Anak-Nya
sendiri untuk menggantikan mereka, (1Yohanes
4:14).
Demikianlah
Penyataan Yesus tentang Allah Bapa, (Matius
5:48; 6:1, 4, 6, 8-9, 14-15, 18, 26, 32; 7:21 ) bahwa Bapa itu Ada,
Sempurna dan Berkuasa. Jadi, Jika Allah Bapa ada, maka Ia berfirman. Jika Ia
berfirman, maka Ia bertindak. Jika Ia bertindak, maka Ia menciptakan. Jika Ia
menciptakan, maka Ia memelihara. Jika Ia memelihara, maka Ia menyelamatkan.
Jika Ia menyelamatkan, maka Ia menyempurnakan seperti diri-Nya adalah sempurna.
Jadi, Bapa yang telah menciptakan alam semesta sesuai rencananya yang kekal,
dan yang telah menyelamatkan manusia berdosa melalui Anak-Nya, Yesus Kristus
sesuai rencana-Nya, akan memelihara orang-orang pilihan-Nya melalui Allah Roh
Kudus sesuai dengan maksud-Nya, (Yoh.14:16-17)
sehingga mereka, orang-orang pilihan Allah Bapa akan terlindungi sampai saat
memasuki kesempurnaan kebahagiaan bersama Allah Tritunggal dalam kekekalan.
2. Pribadi Kedua Allah Tritunggal Adalah
Yesus Kristus
Alkitab
dimulai dengan peristiwa penciptaan alam semesta. Manusia diciptakan begitu
indah dan sempurna sesuai dengan keinginan Sang Pencipta. Ditempatkanlah Adam
dan Hawa dalam taman Eden dengan suatu ujian ketaatan kepada Sang Pencipta.
Namun, Kejadian 3, menjelaskan bahwa Adam dan Hawa tergoda dan jatuh ke dalam
dosa, karena; ketidaktaatan, keinginan menjadi seperti Allah, bebas dan memisahkan
diri dari control Sang Pencipta, dan meragukan maksud baik Sang Pencipta.
Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah menyampaikan maksud baik-Nya
yang sejak kekal sudah ditetapkan yaitu akan mengutus seorang penebus, yang
melalui-Nya, Iblis ditaklukan. Pribadi yang dimaksud adalah Yesus.
a. Yesus adalah Allah Sepenuhnya
Dalam
Perjanjian Baru, kita mengetahui bahwa nubuat tersebut digenapi di dalam Yesus
Kristus karena Dialah yang dijanjikan itu. Pribadi kedua Allah Tritunggal itu
harus datang karena dosa membuat manusia begitu ‘payah’ dan tidak bisa menolong
diri sendiri.
Akan
tetapi yang menjadi perdebatan banyak orang sampai hari “Siapakah Yesus?”
bahkan sampai hari ini banyak orang masih saja mempertanyakan. Bagi kita apa
yang dikatakan Alkitab, itulah yang harus kita pegagng karena ALKITAB ADALAH
FIRMAN ALLAH YANG TERTULIS, BENAR TANPA SALAH DALAM NASKAH ASLINYA.
Yohanes 1:1,
memeritahu kita bahwa Yesus (Firman) adalah Allah. Dengan Alasan: Dia sudah ada
pada mulanya, bersama-sama dengan Allah Bapa, dan Dia adalah Allah. Dia turut
menciptakan segala sesuatu, bahkan memberi hidup kepada segala sesuatu yang
telah diciptakan. Jadi Yesus adalah Allah, dan setara dengan Allah Bapa, bukan
seperti konsep Saksi Yehovah, yang menafsirkan ayat ini secara salah sehingga
mereka menyimpulkan bahwa Yesus adalah ‘allah kecil’, yang lebih rendah dari
Bapa/Yehovah.
Dalam Matius
28:19, Yesus menyebut Diri-Nya sebagai Pribadi kedua dalam Allah Tritunggal.
Dengan demikian Yesus hendak mengajar orang-orang percaya bahwa Yesus bukan
Bapa dan Bapa bukan Yesus. Yesus berbeda dengan Bapa dalam pribadi-Nya. tetapi
bukan berarti karena berbeda maka pasti ada pertentangan. Tidak!. Jika ada
pertentangan itu pasti bukan Allah. Sekalipun berbeda, namun Yesus berkata “Aku
dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30-36).
b.
Yesus Adalah
Manusia Sepenuhnya
Inkarnasi
berasal dari bahasa Latin yaitu in-carne. Dan dalam bahasa Yunani
disebut en sarki yang artinya ‘dalam daging’. Yang dimaksud dengan
dalam daging adalah mencakup keseluruhan diri manusia. Karena itu arti yang
lebih tepat adalah menjadi manusia. Inkarnasi berbeda dengan reinkarnasi. Reinkarnasi artinya penjelmaan kembali menjadi makhluk
hidup dari makhluk yang telah mati.
Orang mungkin
bertanya “Siapakah yang berinkarnasi?” jawaban yang tepat adalah Pribadi kedua
Allah Tritunggal yang nama-Nya adalah Yesus. Dialah yang berinkarasi. Inkarnasi
artinya menjadi manusia. Tujuan inkarnasi-Nya adalah dalam rangka menggenapkan
rancangan yang sejak kekal sudah ditetapkn oleh Allah Tritunggal. Rancangan
tersebut adalah menjadi manusia supaya dapat menjadi Juruselamat manusia
berdosa (hanya bagi orang-orang Pilihan saja).
Bukan Allah
Tritunggal yang berinkarnasi melainkan Pribadi kedua Allah
Tritunggal yang menjadi manusia. Namun harus diingat bahwa Allah Bapa dan Allah
Roh Kudus juga mendukung Allah Anak dalam mengerjakan karya penebusan bagi umat
pilihan (Mat. 1:20; Luk. 1:35; Yoh. 1:14; Kis. 2:30; Rom. 8:3; Gal. 4:4; Fil.
2;5-7).
Dalam Yohanes
1:1, kata ‘Firman’ dalam bahasa Yunani adalah ‘logos’. Seperti frasa yang mengatakan “Firman itu telah menjadi manusia”,
(Yoh.1:14).
Yang dimaksud
dengan ‘Firman itu telah menjadi manusia’ adalah Anak Tunggal Bapa, (Yoh.1:14) atau Anak Tunggal Allah, (Yoh.1:18). Dan kedua ayat ini menunjuk
kepada Pribadi kedua Allah Tritunggal yakni Yesus.
Siapakah Firman
/ Yesus itu menurut Yohanes 1:1-4?
Menurut ayat ini: a). Firman itu ada dari/sejak mulanya. b).
Firman itu bersama-sama dengan Allah. c). dan Firman itu adalah
Allah. d). Firman itu menjadikan segala sesuatu. e).
dan Firman itu memberi hidup kepada segala sesuatu yang telah dijadikan.
Perhatikan: frasa/kalimat
dalam ayat ini mengalami peningkatan yang semakin jelas, bahwa Firman itu sudah
ada sejak kekal (berarti tidak diciptakan), bersama-sama dengan Allah (berarti
pribadi lain selain Allah Bapa), dan Firman itu adalah Allah (artinya Firman
itu tidak hanya ada sejak mulanya, dan tidak hanya bersama-sama dengan Allah,
melainkan Firman itu adalah Allah sendiri) dan bersama-sama dengan Bapa dan Roh
Kudus menciptakan segala sesuatu dan
memberi hidup kepada segala yang telah diciptakan.
Bagaimana
Firman Itu Menjadi Manusia/Berinkarnasi?
Filipi
2:6,
menjelaskan bahwa Allah Anak-lah yang menjadi manusia, bukan Allah Bapa.
Sebelum Allah Anak menjadi manusia, Dia adalah Allah yang sempurna, sama
seperti ketika menjadi manusiapun, Dia adalah manusia sempurna. Sebelum menjadi
serupa dengan manusia, Dia berada dalam rupa Allah karena Dia adalah Allah.
Budi
Asali mengatakan bahwa :
Pada waktu
firman Allah menjadi manusia, keilahian Yesus tidak hilang/tidak berkurang
sedikitpun, tetapi IA justru ketambahan hakekat manusia pada diriNya. Firman menjadi
manusia berarti bahwa Pribadi kedua Allah Tritunggal mengambil hakekat manusia
yaitu tubuh & jiwa, (manusia seutuhnya seperti kita hanya tidak berdosa karena Dia dikandung oleh Roh Kudus). :
1.
Tanpa
mengalami perubahan dalam hakekatNya
2.
Tanpa
kehilangan sifat-sifatNya
3.
Tanpa
menghentikan/mengurangi kegiatanNya
Dalam Filipi 2:7, rasul Paulus menjelaskan
tentang cara Pribadi kedua Allah Tritunggal menjadi manusia yaitu:
-
Mengosongkan
diri. Ini menjelaskan tentang penyangkalan diri yang mutlak dimana manusia
tidak dapat mengenal-Nya sebagai Allah, kecuali IA sendiri dan Bapa. Namun
bukan berarti bahwa Ia meninggalkan/membuang sifat-sifat ilahi-Nya.
-
Mengambil
rupa seorang hamba : ungkapan ini adalah keterangan dari ungkapan “mengosongkan
diri sendiri.” Tetapi bukan baru terjadi setelah pengosongan diri tetapi
terjadi bersamaan. (artinya tidak hanya
sekedar menjadi manusia, melainkan bahkan merendahkan diri-Nya menjadi Hamba
untuk menderita mewakili manusia berdosa demi menyelamatkan manusia berdosa
dari siksaan neraka akibat dosa).
-
Dan
menjadi sama dengan manusia artinya dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa,
IA sama dengan manusia-manusia yang lain. Ungkapan dalam keadaan sama dengan
manusia bukan saja menyatakan keadaan Yesus sebagai manusia (kerendahanNya,
kehinaanNya) tetapi juga keadaanNya sebagai manusia menurut suatu cara yang
tertentu, yaitu dimana IA tidak berbeda dengan manusia-manusia lain, namun tidak berdosa.
Alkitab
menjelaskan bahwa upah dosa adalah maut / kebinasaan kekal, (Rm. 6:23 Kej. 2:16-17) dan semua
manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak dapat
menyelamatkan dirinya sendiri apalagi orang lain. Karena itu, Pribadi Kedua
Allah Tritunggal menjadi manusia supaya dapat berkomunikasi dengan manusia dan
dapat mati menggantikan manusia berdosa. (inilah
cara yang Allah pilih dan tidak boleh ada yang protes kepada Allah dengan
berkata ‘apakah tidak ada cara lain?’).
Dan harus selalu
diingat bahwa, jika Pribadi Kedua Allah Tritunggal berinkarnasi dan menebus manusia
dari dosa, itu bukan sebagai suatu kewajiban / keharusan yang harus Allah
lakukan, melainkan semata-mata karena kasihNya dan kehendak-Nya yang berdaulat.
Karena itu, Dialah yang berdaulat untuk menebus orang-orang pilihan-Nya dan
menyelamatkan mereka dari dosa.
Mengapa Yesus
menjadi manusia?
a.
Karena Ia mau memikul hukuman dosa manusia (Ibr 2:14-17).
Andaikata Ia
mau memikul hukuman dosa malaikat, maka Ia harus menjadi malaikat. Tetapi
karena Ia mau memikul hukuman dosa manusia, maka Ia harus menjadi manusia.
b.
Supaya bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia.
1Tim 2:5 - “Karena Allah
itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia,
yaitu manusia Kristus Yesus”.
c.
Supaya bisa menjadi teladan bagi kita (Yoh 13:14-15).
d.
Supaya bisa mati.
Upah
dosa ialah maut / kematian (Ro 6:23). Allah tidak bisa mati. Jadi supaya
bisa memikul hukuman dosa yaitu kematian, Yesus menjadi manusia.
Di bawah ini,
bagian-bagian Alkitab yang menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah
sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia yang bersatu dalam
Pribadi-Nya.
Bukti-Bukti
Ke-Allah-an Yesus
1) Kitab Suci
secara explicit mengatakan demikian (Yes 9:5 Yoh 1:1 Ro 9:5 Fil 2:5b-7
Titus 2:13 Ibr 1:8 2Pet 1:1 1Yoh 5:20).
Beberapa dari
ayat-ayat ini dijelaskan, yakni:
a) Yoh 1:1 :
Kata ‘Firman’ (bahasa Yunani: LOGOS) di sini jelas menunjuk kepada Yesus. Ini
terlihat dari Yoh 1:14a yang mengatakan bahwa ‘Firman itu telah menjadi
manusia’ dan dari Yoh 1:14b yang menyebut-Nya sebagai ‘Anak Tunggal Allah’.
b) Tit 2:13 :
Terlihat dengan jelas bahwa di sini Yesus Kristus disebut dengan sebutan ‘our
great God and Savior’ (= Allah kita yang besar dan Juruselamat kita).
c) Fil 2:6-7 :
Istilah ‘dalam rupa Allah’ dan ‘kesetaraan dengan Allah’ sudah secara jelas
menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi di sini akan dijelaskan hal-hal
lain sehingga ayat ini menjadi dasar yang lebih kuat lagi bagi keilahian
Kristus.
·
Kata-kata
‘walaupun dalam rupa Allah’ dalam Fil 2:6 diterjemahkan ‘being in the form
of God’ oleh KJV.
Kata ‘being’ itu
dalam bahasa Yunani adalah HUPARCHON dan ini menggambarkan seseorang
sebagaimana adanya secara hakiki dan hal itu tak bisa berubah. Karena itu,
kalau dikatakan bahwa Yesus itu ‘being in the form of God’, maka itu
berarti bahwa Yesus adalah Allah secara terus-menerus dan hal ini tidak bisa
berubah. Allah memang mempunyai sifat tidak bisa berubah (Mal 3:6 Maz 102:26-28
Yak 1:17), karena kalau Ia bisa berubah, itu menunjuk-kan bahwa Ia tidak
sempurna.
·
Juga
kalau ay 7 yang mengatakan ‘mengambil rupa seorang hamba’ diartikan bahwa Yesus
betul-betul menjadi manusia, maka konsekwensinya, ay 6 yang mengatakan bahwa
Yesus ada ‘dalam rupa Allah’ haruslah diartikan bahwa Yesus betul-betul adalah
Allah.
·
Disamping
itu kata ‘rupa’ dalam ay 6 itu (KJV: form) dalam bahasa Yunaninya adalah
MORPHE, dan seorang penafsir mengatakan bahwa kata MORPHE ini adalah bukan
semata-mata suatu kemiripan lahiriah / luar, tetapi suatu persesuaian /
kecocokan di dalam yang mendalam dan sungguh-sungguh. Baca juga 2Ptr. 1:1.
2. Kitab Suci memberikan nama-nama ilahi untuk
Yesus (Yes 9:5 Yer 23:5-6 Yer 33:14-16 Mat 1:23 2Tim 1:10 Ibr 1:8,10).
3. Kitab Suci
menunjukkan bahwa Yesus mempunyai sifat-sifat ilahi seperti:
a) Kekal (Mikha 5:1b Yoh 1:1 Yoh
8:58 Yoh 10:10 Yoh 17:5 Ibr 1:11-12 Wah 1:8,17-18 Wah 22:13).
b) Suci / tak berdosa (2Kor 5:21 Ibr
4:15).
c) Mahakuasa: Mujijat-mujijat yang
Ia lakukan, seperti membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, memberi
makan 5000 orang lebih dengan 5 roti dan 2 ikan, menenangkan badai, mengubah
air menjadi anggur, berjalan di atas air, mengusir setan, dsb, menunjukkan
kemaha-kuasaanNya.
Memang nabi-nabi
dan rasul-rasul tertentu juga melakukan banyak mujijat, tetapi ada beberapa
perbedaan, yakni tidak ada nabi / rasul yang bisa melakukan mujijat sesuai
kehen-daknya sendiri, tetapi Kristus bisa (Yoh 5:21), Nabi melakukan muzijat
bukan dengan kuasanya sendiri tetapi dengan kuasa Allah, sedangkan rasul juga
demikian karena mereka melakukan mujizat dengan menggunakan nama Yesus. Tetapi
Yesus melakukan mujizat dengan kuasaNya sendiri (bdk. Yoh 10:18), dan Ia tidak
pernah menggunakan nama orang lain untuk melakukan mujizat, Tidak ada seorangpun
pernah melakukan mujizat sebanyak / sehebat yang Yesus lakukan (Yoh 15:24).
d) Mahatahu (Mat 9:4 Mat 12:25 Yoh
2:24-25 Yoh 6:64).
e) Mahaada.
·
Ini
terlihat dari Yoh 1, yang mula-mula menyatakan bahwa Firman / Yesus itu pada mulanya
bersama-sama dengan Allah (Yoh 1:1), tetapi lalu menunjukkan bahwa Firman /
Yesus itu lalu menjadi manusia dan diam di antara kita (Yoh 1:14). Tetapi
anehnya Yoh 1:18 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu masih ada di pangkuan
Bapa.
·
Kemahaadaan
Yesus juga jelas terlihat dari janji yang Ia berikan dalam Mat 18:20 dan Mat
28:20b. Dengan adanya janji seperti itu, kalau Ia tidak mahaada, maka Ia pasti
adalah seorang pendusta!
f) Tidak berubah (Ibr 13:8).
Bukti-Bukti
Ke-Manusia-an Yesus:
1). Ia disebut ‘orang / seorang manusia’ (Yoh 8:40 Kis 2:22 Ro 5:15 1Kor 15:21).
1). Ia disebut ‘orang / seorang manusia’ (Yoh 8:40 Kis 2:22 Ro 5:15 1Kor 15:21).
2). Ia menyebut
diriNya sendiri ‘Anak Manusia’ (Mat 24:44).
3). Kitab Suci
mengatakan bahwa Ia telah menjadi manusia / daging (Yoh 1:14 1Tim 3:16 Ibr 2:14
1Yoh 4:2).
Semua ayat-ayat
ini sebetulnya terjemahan hurufiahnya menggunakan kata ‘daging’. Kata ‘daging’
ini bukan hanya menunjuk pada daging / tubuh manusia, tetapi pada seluruh
manusia.
4). Kitab Suci
menggambarkan Kristus sebagai seseorang yang:
a) Mempunyai
tubuh (darah, daging, dan tulang) dan jiwa / roh (Mat 26:26,28 Luk 24:39 Ibr
2:14).
b) Mempunyai
jiwa / roh (Mat 26:38 Mat 27:50 Luk 23:46 Yoh 11:33 Yoh 12:27 Yoh 13:21 1Yoh
3:16).
c) Mengalami
pertumbuhan / perkembangan (Luk 2:40,52).
d) Mengalami
segala sesuatu yang dialami oleh manusia-manusia yang lain (kecuali dalam hal
melakukan dosa), seperti: lahir (Luk 2:7), lapar (Mat 4:2), haus (Yoh 4:7 Yoh
19:28), letih (Yoh 4:6), tidur (Mat 8:24), penderitaan (Ibr 2:10,18 Ibr 5:8),
dan mati (Yoh 19:30).
c. Karya Yesus Kristus
Karya Yesus
Kristus dijabarkan dalam ketiga jabatanNya, yakni :
1. Jabatan KeNabian
Istilah nabi
dalam PL : nabhi, ro’eh, dan chozeh, yakni manusia Allah, utusan Allah, dan
pengawal. Sedangkan dalam PB dipakai
kata Prophetes, yakni nabi adalah seorang yang berbicara secara langsung dari
Tuhan. Dari istilah-istilah yang dipakai kita dapat menyimpulkan bahwa seorang
nabi adalah:
1.
Seorang
Yang Datang Dan Membawa Berita Dari Allah Bagi Umatnya
2.
Seorang
Yang Menerima Wahyu Dari Allah
3.
Seorang
Yang Berbicara Secara Langsung Dari Allah
Kristus
melaksanakan jabatan sebagai seorang nabi, dengan menyatakan kepada kita,
melalui firman dan rohNya, kehendak Allah bagi keselamatan kita.
2. Jabatan KeImaman
Kata Imam dalam
PL : Kohen yang menunjukkan fungsi
sipil maupun fungsi dalam peribahan, (Band. I Raj.4:5; II Sam.8:18; 20:26).
Kata ini selalu menunjukkan arti tentang seseorang yang memegang jabatan yang
mulia dan penuh tanggung jawab, dan mempunyai otoritas atas orang-orang lain,
dan berarti petugas dalam peribadahan. Kata dalam PB untuk Imam adalah hierus
yang berarti “ia yang perkasa”, dan kemudian berarti “seseorang yang sakral”,
“seorang yang mempersembahkan diri kepada Tuhan” .
Tugas imam :
1. Memberikan persembahan dan korban karena dosa
2. Bersyafaat bagi umat (Ibr. 7:25)
3. Memberkati mereka dalam nama Tuhan (Im. 9:22)
1. Memberikan persembahan dan korban karena dosa
2. Bersyafaat bagi umat (Ibr. 7:25)
3. Memberkati mereka dalam nama Tuhan (Im. 9:22)
Kristus
melaksanakan jabatannya sebagai imam dengan mempersembahkan dirinya sendiri
(cukup hanya) satu kali sebagai korban untuk memuaskan keadilan ilahi dan
mendamaikan kita dengan Allah dan terus-menerus menjadi pengantara bagi kita
3. Jabatan sebagai
Raja
Yesus Adalah
Allah dan Manusia. Ia mempunyai kuasa, bahkan kuasa tidak ditandingi. Segala
kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan Bapa kepada-Nya. Takhta-Nya
ditetapkan di surga dan KerajaanNya tidak berkesudahan, (Maz. 103:19).
Jadi, Pribadi
kedua dari Allah Tritunggal adalah Allah Anak Yaitu Yesus. Allah Anak selalu
hidup. Ketika Dia lahir sebagai bayi manusia di dalam kandang, Dia mengambil natur
manusia tetapi itu bukanlah awal kehidupan-Nya. Dari dulu Dia selalu hidup
sebagai Allah. Karena Allah Anak lahir sebagai manusia, maka kita dapat melihat
bagaiman rupa Allah yang tidak tampak itu. (kita, yang tidak hidup pada masa
ketika Yesus ada di bumi, dapat membaca kisah-Nya dalam Alkitab dan melihat
seperti apa Allah itu). Dalam Kolose
1:15-16, menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan untuk
kemuliaan Allah. Dan Kolose 1:19-20,
menjelaskan bahwa melalui Yesuslah, Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya.
c. Pribadi Ketiga Allah Tritunggal Adalah
Roh Kudus
Roh Kudus adalah
Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Anak. Roh
Kudus juga terlibat dalam karya penciptaan, dan Dialah yang mengilhami
penulisan Alkitab. (itu berarti bahwa Dia mengarahkan orang-orang yang menulis
sehingga apa yang mereka tulis adalah Firman Allah.) Roh Kudus berperan sangat
aktif dalam karya penyelamatan umat Allah. Dialah yang membuat seseorang
dilahirkan kembali sehingga ia mampu mempercayai Yesus, (Yohanes 3:3-5). Roh Kudus hidup dalam umat-Nya dan mendorong mereka
bertumbuh semakin menyerupai Yesus, (Galatia
5:22-23).
(pembahasan
tentang Roh Kudus dibahas secara dalam artikel “DOKTRIN ROH KUDUS”)
BAB
III
SIMPULAN
1.
Hanya ada satu
Allah yang hidup dan yang sejati, yang eksis dalam tiga Pribadi; Allah Bapa,
Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.
“TUHANlah Allah,
dan tidak ada yang lain” (1Raj. 8:60).
“Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’ baik di Sorga, maupun di bumi –
dan memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian – namun
bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa” (1Kor. 8:5-6). “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian;
tidak ada Allah lain selain dari pada-Ku” (Yes.
44:6). Tidak ada kebenaran yang begitu tegas dan kuat diajarkan dalam
Alkitab dibandingkan kebenaran ini. Hanya ada satu Allah yang benar-benar
eksis.
2.
Alkitab juga
dengan jelas mengajarkan bahwa bukan hanya Bapa yang disebut Allah, tetapi juga
Anak dan Roh Kudus.
Ada beberapa
ayat Alkitab yang menjelaskan kepada kita bahwa Bapa adalah Allah. Demikian
juga dengan Anak adalah Allah. “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah;
tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang
menyatakan-Nya” (Yoh.1:18). Dalam Mazmur 45:7, kita membaca mengenai Sang
Mesias: “Tahtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya.” Dan
dalam Yesaya 9:5 tertulis: “Seorang
putra telah diberikan untuk kita … dan namanya disebutkan orang Penasihat
Ajaib, Allah yang Perkasa …” Kemudian dalam Perjanjian Baru, kita membaca bahwa
“Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1).
Dan ketika Thomas yang “peragu” akhirnya tiba pada kebenaran yang sejati; ia
jatuh tersungkur di hadapan Yesus serta berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!”(Yoh. 20:28). Dengan demikian Kristus
Sang Anak, tanpa perlu diragukan lagi, memang adalah Allah. Selain itu kita
juga dapat melihat dalam Perjanian Baru bahwa Kristus memiliki atribut-atribut.
3.
Alkitab juga
menjelaskan bahwa ketiga-Nya merupakan pribadi-pribadi yang berbeda, namun
setara dalam kuasa dan kemuliaan.
Allah Bapa,
Allah Anak, dan Allah Roh Kudus berbeda secara pribadi tetapi setara dalam
kuasa dan kemuliaan. Allah Bapa mengutus
Allah Anak ke dalam dunia, (Mrk. 9:37;
Mat. 10:40; Gal. 4:4). Allah Bapa bersama-sama dengan Allah Anak mengutus
Allah Roh Kudus, (Yoh. 14:26; 15:26;
16:7). Kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memikirkan
hubungan-hubungan antar Pribadi. Yang Alkitab ajarkan adalah bahwa Allah Anak
tunduk kepada Allah Bapa karena Allah Bapa yang mengutus-Nya. Dan Allah Roh
Kudus tunduk kepada Allah Bapa dan Allah Anak, karena Ia diutus ke dalam dunia
oleh Bapa dan Anak. Akan tetapi kita harus ingat bahwa ketika kita membicarakan
ketundukan antar Pribadi bukan berarti bahwa kita memaksudkan ketidaksetaraan.
Bagaimanapun juga Pribadi-Pribadi Allah ini sama dalam substansi/masing-masing adalah
Allah sepenuhnya karena itu Mereka setara dalam kuasa dan kemuliaan. Dan
penekanan selanjutnya dari Alkitab adalah bahwa dalam karya Allah, Allah Bapa,
Allah Anak, dan Allah Roh Kudus bekerja bersama-sama.
Contoh:
Dalam Penciptaan; dikatakan tentang Allah
Bapa, “Dahulu sudah Kau letakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan
tangan-Mu” (Mzm. 102:26). Dan “Pada
mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Dan tentang Allah Anak, “Karena di dalam Dialah (Yesus)
telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang
kelihatan dan yang tidak kelihatan (Kol.
1:16)” dan “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu
pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3). Ada tertulis tentang Roh Kudus, “Roh Allah telah membuat
aku” (Ayb. 33:4).
Dalam Inkarnasi: dikatakan bahwa tiga Pribadi
Allah yang esa bekerja bersama-sama, (Luk.1:35).
Pada saat Yesus dibaptis ketiga Pribadi hadir; Anak keluar dari air, Roh turun
dalam bentuk seekor merpati, dan suara Bapa terdengar dari langit menyatakan,
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:16-17). Demikian juga dalam hal Pendamaian dan kebangkitan, ketiga Pribadi Allah yang esa bekerja bersama-sama, Ibr. 9:14; Kis. 2:32; Yoh. 10:17-18; Rm.
1:4.
Pertanyaan
terakhir: “Siapakah yang harus kita sembah?”
Alkitab
memberitahu kita bahwa:
Bapa adalah
Allah dan bahwa kita harus menyembah-Nya, Efesus
4:6; Yohanes 4:23.
Yesus, Allah
Anak, adalah Allah sepenuhnya. Segala kuasa dan kemuliaan adalah milik-Nya dan
Dia layak kita sembah, Matius 1:23;
Mazmur 2:10-12.
Roh Kudus juga
adalah Allah sepenuhnya, dan Dia layak menerima penyembahan dan pujian orang
pilihan Allah, 2Korintus 3:17-18.
Dengan demikian,
nyatalah keunggulan iman kepada Allah Tritunggal bahwa “kita dipilih sesuai dengan
rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya
taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya” (1Ptr. 1:2). Kita juga tidak terkejut
bahwa kita diutus ke dalam dunia untuk “menjadikan semua bangsa murid-Ku dan
membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”
(Mat. 28:19).
-- AMIN --
Shalom bapak, ibu saudara/i di manapun berada. Apakah Sudah ada yang pernah mendengar tentang Shema Yisrael? Ini adalah kalimat pengakuan iman orang Yahudi yang biasa diucapkan pada setiap ibadah mereka baik itu di rumah ibadat atau sinagoga maupun di rumah. Yesus juga menggunakan Shema untuk menjawab pertanyaan dari seorang ahli Taurat mengenai hukum yang utama. Kita dapat baca di Ulangan 6 ayat 4 dan pernah juga dikutip oleh Yesus di dalam Injil Markus 12 : 29. Dengan mengucapkan Shema, orang Yahudi mengakui bahwa YHWH ( Adonai ) Elohim itu esa dan berdaulat dalam kehidupan mereka. Berikut teks Shema Yisrael tersebut dalam huruf Ibrani ( dibaca dari kanan ke kiri seperti huruf Arab ) beserta cara mengucapkannya ( tanpa bermaksud untuk mengabaikan atau menyangkal adanya Bapa, Roh Kudus dan Firman Elohim yaitu Yeshua haMashiakh/ ישוע המשיח, yang lebih dikenal oleh umat Kristiani di Indonesia sebagai Yesus Kristus ) berikut ini
BalasHapusTeks Ibrani Ulangan 6 ayat 4 : ” שְׁמַ֖ע ( Shema ) יִשְׂרָאֵ֑ל ( Yisrael ) יְהוָ֥ה ( YHWH [ Adonai ] ) אֱלֹהֵ֖ינוּ ( Eloheinu ) יְהוָ֥ה ( YHWH [ Adonai ] ) אֶחָֽד ( ekhad )
”
Lalu berdasarkan halakha/ tradisi, diucapkan juga berkat: ” ברוך שם כבוד מלכותו, לעולם ועד ” ( " barukh Shem kevod malkuto, le’olam va’ed " ) yang artinya diberkatilah nama yang mulia kerajaanNya untuk selama-lamanya " ). Apakah ada yang mempunyai pendapat lain?.
🕎✡️👁️📜🕍🤴🏻👑🗝️🛡️🗡️🏹⚖️☁️☀️⚡🌧️🌈🌒🌌🔥💧🌊🌬️🏞️🗺️🏡⛵⚓👨👩👧👦❤️🛐🤲🏻🖖🏻🌱🌾🍇🍎🍏🌹🐏🐑🐐🐂🐎🦌🐪🐫🦁🦅🕊️🐟🐍₪🇮🇱⛪
micro touch titanium trimmer | TITanium Arts
BalasHapusDescription. $25.00. Open where can i buy titanium trim box.$25.00 titanium bolt · titanium pans In stock · titanium 170 welder In titanium trim walmart stock
you can try this out vibrators,vibrators,horse dildo,realistic dildo,sex chair,cheap sex toys,cheap sex toys,dildo,sex toys helpful site
BalasHapusp093j5fifvq515 horse dildo,sex chair,male sex dolls,vibrators,dog dildo,realistic dildo,sex toys,G-Spot Vibrators,realistic dildo v417v8rqgbn450
BalasHapusi416l2ytvaf420 sex chair,women sex toys,male sex toys,vibrators,rabbit vibrators,wolf dildo,Wand Massagers,cheap sex toys,dual stimulator s559l6gufyd022
BalasHapus