Senin, 18 Januari 2016

PENGINJIL DAN INJIL



Memberitakan Kabar Baik-Injil
(P e n g i n j i l a n)
OLEH: EV. SIPRIANUS TATENI, S.TH.
LAGU: HATI BAPA
 “Berikan pada kami hati yang mengasihi Jiwa-jiwa yang belum mengenal kasih Bapa Mereka yang dalam g’lap, mereka yang tersesat.
Hati kami iba, seperti hati-Mu Yesus. Tuhan ini tugas kami, beri keb’ranian bagi kami Taruhlah roh yang rela melayani,
dan menyenangkan  hati  Tuhan itu yang kuingini.”

Roma 10:13-15, 17“Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?
Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia.
Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”
Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?
Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”.

Apa Yang Dimaksud Dengan Penginjilan?
Penginjilan adalah proklamasi karya keselamatan yang dikerjakan Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, di dalam pekerjaan Roh Kudus kepada semua orang yang belum mendengar Injil.

Proklamasi Injil ini menuntut adanya tanggapan pribadi yaitu bertobat dan beriman dan menerimaNya sebagai Juruselamat; serta menjadi murid yang rela menyangkal diri, memikul salib, dan melayani Dia.

Prinsip Penginjilan
1.      Berita Injil yang disampaikan haruslah mengajarkan tentang Yesus Kristus dan karya keselamatan  yang dikerjakanNya di kayu salib bagi pengampunan dosa manusia. Hanya dengan percaya kepada Kristus seseorang dapat berdamai kembali dengan Allah. Kis. 4:12; Yoh. 3:16; 1Tim. 1:15; Gal. 3:13; 1Tes. 1:10; Rm. 14:9.
2.      Penginjilan ibarat sebuah peperangan rohani (Ef. 6:12), untuk membebaskan manusia dari genggaman dan pengaruh kuasa iblis (Kol. 1:13). Dunia sekarang ini sedang dipengaruhi oleh iblis. Iblis menawarkan persahabatan dengan manusia kemudian menanamkan pikiran-pikiran yang sejalan dengan kehendak iblis sehingga semua orang yang telah mengikat persekutuan dengan iblis menyerang Allah dan firmanNya bahkan terus berusaha “membutakan” mata hati manusia sehingga tertututp terhadap berita Injil. Bagaimana cara mengatasi strategi iblis? Yang dapat kita lakukan adalah terus berdoa dan memberitakan Injil sebab kuasa Allah yang ajaib pasti menyertai kita dan berita yang kita sampaikan, (Mat. 28:19-20).
Keindahan Injil
Keindahan Injil adalah bahwa Allah di dalam kasih-Nya yang tidak terbatas menyediakan pengampunan bagi manusia berdosa berdasarkan karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib.

Inilah Injil yang memberikan pengharapan akan hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus.

Keindahan Injil ini bersumber dari Allah Tritunggal yakni bahwa Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus yang telah berencana untuk menyelamatkan orang berdosa sebelum dunia diciptakan, (Kis. 2:25-28; Ef. 1:3,4; Ef. 3:8-11; Tit. 1:2,3; Ibr. 13:20; 1Ptr. 1:18-20).

Perencanaan Allah Tritunggal ini hanya didasarkan pada kedaulatan kehendak-Nya semata (Ef. 1:5) dan bukan pada kehendak manusia berdosa.

Perencanaan tersebut dapat dimengerti sebagai berikut:
§  Sejak atau lebih tepat dalam kekekalan Allah Bapa telah memilih Kristus berdasarkan kedaulatan anugerah-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada orang berdosa (Ef. 1:4,5; Rm. 8:29). Kemudian Ia memberikan umat tebusan-Nya kepada Kristus untuk ditebus (Yoh. 17:6), serta Ia juga yang memelihara umat tebusan-Nya dan menggenapkan keselamatan itu (Yoh. 10:28,29; Rm. 8:30).

§  Kristus telah mati di salib (Gal. 3:13), untuk menebus dosa umat pilihan-Nya. Yesus taat pada kehendak Bapa. Ia membenarkan, memberikan hidup kekal dan kemuliaan kepada umat-Nya (Mat. 1:21), yakni orang-orang yang diberikan Bapa (Yoh. 17:9), atau yang disebut domba-domba-Nya (Yoh. 10:11), gereja-Nya (Kis 20:28), dan umat pilihan Alah (Rm. 8:32,33).

§  Allah Roh Kudus yang menyadarkan seseorang akan keberdosaannya dan kebutuhannya akan keselamatan. Allah memanggil orang berdosa ke dalam keselamatan, dengan melahirbarukan mereka (Yoh. 3:3,5,7; 1Yoh. 4:10; Yoh. 17:4, 14:26, 15:25). Dan memberikan kemampuan untuk beriman kepada Allah melalui hati yang baru (Yeh. 11:19).
Penginjilan dapat dilakukan melalui percakapan secara pribadi ataupun pertemuan massal.
Hal-hal penting yang perlu ditekankan dalam penginjilan adalah:

Pertama: Keselamatan adalah Anugerah Allah. Anugerah artinya pemberian Cuma-Cuma dari Allah. Dalam Efesus 2:8 dan 10, rasul Paulus menjelaskan bahwa keselamatan adalah karya Allah yang diberikan kepada manusia bukan karya manusia (Ef. 2:8,10).
Manusia memiliki tanggung jawab untuk percaya (beriman) kepada Allah.

Apakah tanggung jawab manusia ini terpisah dari campur tangan Allah? Tidak! Untuk percaya saja, manusia tidak sanggup. Karena itu, Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk beriman, seperti yang tertulis dalam Filipi 2:12-13, yang menjelaskan bahwa Allah yang membuat seseorang berkeinginan untuk beriman kepada Allah.

Kedua: Panggilan pertobatan (Mrk.1:4,15; Kis. 2:38). Pertobatan terjadi karena seseorang menyadari dirinya telah melanggar hukum-hukum Allah yang kudus, benar, dan baik (Rm. 7:12). Selain menyadari, orang tersebut harus bertekad untuk meninggalkan dosa.

Ketiga: Kabar Baik. Isi kabar baik itu adalah bahwa Allah telah menebus orang berdosa dari hukuman maut dan kebinasaan kekal, dan telah mendamaikan orang berdosa dengan Allah sendiri dan menganugerahkan keselamatan sehingga mereka memiliki persekutuan dengan Allah.

Inti kabar baik yang dipercayakan Allah kepada setiap orang yang percaya adalah bahwa Kristus telah menggantikan tempat manusia di atas kayu salib di Golgota.
Yesaya 53:5, berkata;  “Tetapi ia (Yesus) dilukai karena dosa-dosa kita, dan didera karena kejahatan kita. Ia (Yesus) dihukum supaya kita diselamatkan, karena bilur-bilurnya kita disembuhkan.”, BIS.

Dalam 2Kor. 5:21, rasul Paulus menjelaskan tentang hakikat penginjilan dengan berkata: “Kristus tidak berdosa, tetapi Allah membuat Dia menanggung dosa kita, supaya kita berbaik kembali dengan Allah karena bersatu dengan Kristus.” (BIS). Baca juga: 1Ptr. 3:18.

Makna Penginjilan
1.      Penginjilan harus ditujukkan kepada semua orang yang belum mendengar Injil.
2.      Penginjilan tidak boleh didefinisikan dalam kerangka hasil.
Namun harus diingat bahwa pengharapan akan bertobatnya jiwa-jiwa baru juga penting.
3.      Penginjilan tidak boleh didefinisikan dalam kerangka metode. Arti mendasarnya adalah bahwa penginjilan tidak tergantung pada cara melainkan pada Pemberita Injil dan Injil yang diberitakan.
Jadi, kita harus setia dalam penginjilan kepada semua orang yang belum lahir baru, dan tidak tergantung pada cara dan hasil/target.
Kedaulatan Allah Dalam Penginjilan
Rasul Paulus dengan penuh kerendahan hati mengakui kedaulatan Allah dalam penginjilannya. Jika kita mencermati pelayanan rasul Paulus, dia adalah seorang yang fasih berbicara, namun ia justru mengatakan bahwa pelayanannya sangat bergantung pada pekerjaan Roh Kudus. Ia berkata:
“Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia”, 1Kor. 2:4,5.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa:
1.      Allah sendiri dalam kedaulatan-Nya akan membuka mata hati orang berdosa sehingga mereka dapat melihat kebenaran injil.
2.      Allah sendiri yang dapat mengaruniakan kemampuan kepada mereka untuk dapat menerima berita Injil tersebut, beriman, dan mendapatkan keselamatan sejati sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya. Contoh: Kis. 16:13,14, menjelaskan bahwa Tuhan membuka hatinya Lidia sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus. Lidia dapat mengerti dan menjadi percaya bukan karena rasul Paulus fasih berbicara melainkan karena “Tuhan membuka hatinya”.
3.      Disini nyata bahwa: - Allah yang berdaulat akan bekerja memanggil orang-orang pilihan-Nya - melalui para pemberita Injil yang setia - memberitakan Injil-Nya.  

Hambatan dalam penginjilan
1.      Adanya anggapan bahwa penginjilan itu hanya tugas orang-orang yang secara full-time bagi Tuhan (Pendeta, Penginjil, Majelis).
2.      Tidak tahu apa yang harus dikatakan dan cara mengatakannya.
3.      Takut dan ragu dengan kemungkinan akan menghadapi sejumlah pertanyaan tentang iman Kristen saat memberitakan Injil.
4.      Sikap negative dari orang yang diinjili seperti menolak, mencaci maki, memfitnah, mempermalukan.
5.      Ada yang berpendapat bahwa “menjadi orang Kristen itu jangan terlalu x-trem dengan memberitakan injil”.
* Bagaimana sikap anda? Adakah hal yang ingin anda perbaiki?

Motivasi Dalam Penginjilan
Allah melihat motivasi yang tulus dan murni pada mereka yang mengabarkan Injil. Motivasi tersebut akan menyebabkan seseorang tidak gampang kecewa dan undur ketika menjumpai kesulitan-kesulitan dalam pelayanannya. Motivasi pemberita injil seharusnya bersumber pada:
1.      Kasih Kristus (Yoh. 3:16)
2.      Kehendak Allah dan pimpinan Roh Kudus (Flp. 2:13). Allah adalah inisiator utama dan pertama dalam penginjilan. Manusia hanya perlu taat pada pimpinan Roh Kudus dan menggenapi seluruh kehendak Allah dalam hidup kita.
3.      Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat. 28:19-20). Kristus adalah Penginjil (Mat. 4:23, 11:1, 9:35). Ia adalah teladan yang tidak menyerah kepada siapapun atau situasi apapun. Karena itu sebelum Ia naik ke sorga, Ia memberikan pesan dan janji. Pesan itu adalah memberitakan Injil ke sumua bangsa. Janji-Nya adalah menyertai mereka yang memberitakan Injil sampai akhir zaman. Kita sekarang berada di zaman akhir menuju akhir zaman.
4.      Perasaan Berhutang (1Kor. 1:17; Tit. 1:3). Karena bagi Paulus memberitakan Injil adalah suatu keharusan (1Kor. 9:16). Perasaan berhutang dan dorongan untuk mengabarkan injil adalah akibat dari anugerah keselamatan yang telah diterimanya.
5.      Pengharapan Masa Mendatang (Mat. 24:14). Pemberitaan Injil berkaitan dengan akhir zaman. Yesus berkata “Dan Injil kerajaan ini akan diberitakan ke seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”  
Tujuan Melakukan Pemberitaan Injil Adalah:
1.      Untuk keselamatan orang berdosa yang kita Injili.
2.      Untuk memberitakan tentang kerajaan Allah, dimana Yesus adalah Raja. Karena itu siapa yang percaya kepada Yesus, saat itu juga Yesus berkuasa atas orang tersebut dan iblis tidak memiliki kuasa sedikitpun atas orang tersebut.
3.      Untuk membawa orang berdosa melihat kemuliaan Allah dan mengenal kehendak Allah.
Pentingnya Penginjilan
Pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasar bagi seseorang dalam melakukan pemberitaan Injil yaitu:
1.      Manusia tersesat dan akan binasa tanpa Kristus. Alkitab menyebutnya sebagai sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa (Ef. 2:1). Dan sedang menuju kebinasaan di bawah murka Allah (Yoh. 3:16,36; 2Kor. 4:3; Mrk. 9:43-48). Hal-hal ini tidak disadari oleh manusia itu sendiri, karena itu dengan adanya penginjilan manusia disadarkan akan dosa dirinya sendiri dan murka Allah yang akan menimpanya.
2.      Manusia berdosa dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Alkitab menjelaskan bahwa sejak dalam kandungan manusia sudah mati dalam dosa. Dalam Ayub 14:4, menjelaskan bahwa “siapa yang dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!” (baca: Mat. 7:16-18).
3.      Manusia terpisah dengan Allah Sang Pencipta. Dosa memisahkan manusia dengan Allah. Akibatnya manusia menjadi musuh Allah. Dengan demikian harus ada seorang Pengantara antara manusia dan Allah. dan hanya Yesus pantas menjadi Pengantara dan Pendamai (Flp. 1:23; 2Kor. 5:20; 1Kor. 9:19-22).
4.      Kristus satu-satunya jalan kepada Bapa di Sorga. injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Rm. 1:16). Hal ini telah tercermin dalam pelayanan rasul Petrus.
Setelah selesai berkhotbah, orang-orang yang mendengarkan khotbahnya bertanya kepadanya: “apakah yang harus kami perbuat (Kis. 2:37)”. Pertanyaan ini merupakan suatu jeritan ketidak berdayaan diri, cetusan kebutuhan pengampunan dosa dan harapan untuk memperoleh keselamatan. Ada orang yang mengatakan bahwa “semua jalan di dunia menuntunmu ke sorga”. Pendapat ini bertentangan dengan Alkitab. Yesus berkata; Akulah jalan, kebenaran, dan hidup; tidak ada seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, Yohanes 14:6. Jadi, dibawah kolong langit hanya ada satu Nama dan satu Pribadi yang dapat menuntun sampai ke Sorga yaitu Yesus Kristus, baca: 2Tim. 2:5; Kis. 4:12.
Metode, Cara Dan Sarana Penginjilan
Setiap metode, cara dan saran dalam penginjilan harus terus menerus diuji sehingga efektif dalam memenuhi Amanat Agung. Metode, cara dan sarana penginjilan antara lain:
·         Penginjilan Pribadi
·         Penginjilan massa
·         Traktat
·         Media elektronika (TV, Radio)
Setiap metode, cara, dan sarana harus memperhatikan dua hal berikut:
1.      Menyatakan berita Injil yang sejati secara lengkap.

Yang dimaksud dengan Injil yang sejati adalah bahwa hanya Yesus Kristus satu-satunya jalan keselamatan dan keselamatan adalah Anugerah dari Allah.

Injil yang lengkap adalah Injil yang menyatakan kehidupan Yesus, pengajaran Yesus, kematian dan kebangkitan Yesus serta kedatangan Yesus kedua kalinya.

1Kor. 15:3,4. Menjelaskan bahwa “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci”.

2.      Pekerjaan Roh Kudus. Keberhasilan penginjilan tidak terletak pada usaha, metode, cata dan sarana, tetapi terutama pada pekerjaan Roh Kudus dalam diri orang berdosa. Setiap orang Kristen adalah Pemberita Injil. Tanggung jawab kita (orang Kristen) adalah menyampaikan berita Injil sejati secara lengkap kepada orang lain, sedangkan hal memberikan pertobatan dan iman yang benar kepada orang itu adalah tanggungjawab Allah sepenuhnya. Karena itu, sikap bergantung kepada Allah ketika memberitakan Injil sangat diperlukan.
Ada Tiga Macam Sikap Terhadap Pekabaran Injil
1.      Golongan pertama adalah orang yang sangat aktif dan bersemangat di dalam memberitakan injil tetapi tidak mempunyai pengertian theologia yang cukup.
2.      Golongan kedua adalah orang yang mengerti banyak tentang theologia tetapi tidak mempunyai jiwa penginjilan di dalam dirinya sehingga tidak mengabarkan injil.
3.      Golongan ketiga adalah orang yang semangat dalam penginjilan dan punya theologia yang baik dan benar terhadap injil yang diberitakan.
Kedua golongan pertama merupakan masalah serius hari ini. Jika seseorang mengabarkan injil namun tidak punya pengertian theologia yang benar, maka penginjilan yang dilakukan akan berjalan tanpa arah yang benar dan mengakibatkan kebingungan dan kekacauan dalam memahami iman Kristen. Jika seseorang mempunyai pengetahuan yang baik dan cukup luas, namun tidak memiliki jiwa penginjilan, maka ia adalah orang Kristen yang kehidupannya tidak berada di dalam rencana Allah.
Seharusnya setiap orang Kristen termasuk dalam kelompok yang mengabarkan injil dengan pengertian theologia yang benar dan dapat dipertanggungjawabkannya.  
Pendekatan
Pendekatan yang kita dapat lakukan terhadap orang yang kita injili adalah melalui mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui kesiapannya menerima tawaran Injil.
1.         Apakah Anda memiliki kepercayaan rohani tertentu? Pertanyaan ini tidak menanyakan apakah mereka percaya kepada Allah. Pertanyaan seperti ini mungkin akan dijawab, "Bukan urusanmu." Namun jika Anda bertanya apakah mereka memiliki kepercayaan rohani tertentu, mereka akan berbicara kepada Anda sekitar 5-10 menit. Biarkan mereka berbicara, sebab dengan demikian mereka tidak akan terlalu berdebat dengan Anda. Jika mereka menjawab langsung "ya" tanpa penjelasan apa pun, lanjutkan ke pertanyaan berikutnya.

2.         Menurut Anda, siapakah Yesus? Pada saat Anda bertanya kepada seseorang apa pendapatnya tentang Yesus, ia biasanya akan menanggapi, "Anak Allah," atau "Orang yang mati disalib." Ini adalah jawaban berdasarkan pengetahuan. Jika ia menjawab, "Allahku dan Juruselamatku." Ini adalah jawaban yang menggambarkan persekutuan pribadinya dengan Allah. jika ia menjawab “tidak”, lanjutkan pertanyaan berikut.

3.         Menurut Anda, apakah surga dan neraka itu ada? Pertanyaan ini aman. Ini pertanyaan intelektual. Secara sederhana pertanyaan ini menanyakan apa yang mereka percayai tentang kehidupan yang akan datang. Menurut Anda, apakah surga dan neraka itu ada?" jika Ia menjawab dengan tegas, "Jelas tidak ada." Maka, tanyakan pertanyaan keempat ini karena bersifat pribadi.

4.         Jika Anda meninggal saat ini juga, ke mana Anda akan pergi? Jika ia menjawab “ke sorga”, Pendapat ini mengalir dari kepala ke hatinya. Ketika Anda mulai berbicara tentang aspek-aspek pribadi kehidupan seseorang, ia akan mulai serius. Tanyakan lagi, mengapa Anda berpendapat demikian? Jawaban mereka akan menunjukkan dengan tepat kepercayaan mereka yang sesungguhnya. Jika mereka berkata, "Tidak tahu," lanjutkan ke pertanyaan berikutnya.

5.         Jika apa yang Anda percayai ternyata tidak benar, maukah Anda mengetahui yang benar? Pertanyaan terakhir ini adalah pertanyaan yang sulit. Yesus membuat orang-orang Farisi dan Saduki jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan-Nya yang keras, jadi kita tidak perlu ragu-ragu menanyai mereka demikian.

Apakah dua kemungkinan jawaban atas pertanyaan ini? Ya atau tidak. Jika "ya," teruskan. Jika jawabannya "tidak," berhentilah. Dan tahukah Anda apa yang akan terjadi setiap kali Anda berhenti? Orang itu akan berkata, "Tidakkah Anda ingin memberitahu saya?" Sangat jarang orang menjawab tidak lalu sama sekali tak berkeinginan mengetahui yang benar. Namun jika Anda benar-benar dijawab tidak, ingatlah, itu bukan persoalan Anda, itu urusan Allah.

Bagian Kita: Matius 28:18,19; 2Kor 5:20.
Bagian Tuhan: Zakharia 4:6;  1Kor 2:4;  Yohanes 6:44;  Yohanes 6:65.

* Lakukanlah Pemberitaan Injil Dengan Setia Kepada Semua Orang!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar