Memberitakan Kabar
Baik-Injil
(P e n g i n j i l a n)
OLEH: EV. SIPRIANUS TATENI, S.TH.
LAGU: HATI BAPA
“Berikan pada kami hati yang mengasihi Jiwa-jiwa
yang belum mengenal kasih Bapa Mereka yang dalam g’lap, mereka yang tersesat.
Hati kami iba, seperti hati-Mu Yesus.
Tuhan ini tugas kami, beri keb’ranian bagi kami Taruhlah roh yang rela melayani,
dan menyenangkan hati
Tuhan itu yang kuingini.”
Roma 10:13-15, 17 - “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru
kepadaNya, jika mereka tidak percaya
kepada Dia?
Bagaimana mereka dapat percaya
kepada Dia, jika mereka tidak mendengar
tentang Dia.
Bagaimana mereka mendengar
tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”
Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?
Seperti ada tertulis:
"Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"
Jadi, iman timbul dari pendengaran,
dan pendengaran oleh firman Kristus”.
Apa Yang Dimaksud Dengan Penginjilan?
Penginjilan adalah proklamasi karya
keselamatan yang dikerjakan Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, di
dalam pekerjaan Roh Kudus kepada semua orang yang belum mendengar Injil.
Proklamasi Injil ini menuntut adanya
tanggapan pribadi yaitu bertobat dan beriman dan menerimaNya sebagai Juruselamat; serta menjadi murid yang rela menyangkal diri, memikul salib, dan melayani
Dia.
Prinsip Penginjilan
1. Berita Injil yang disampaikan haruslah mengajarkan tentang Yesus Kristus
dan karya keselamatan yang dikerjakanNya
di kayu salib bagi pengampunan dosa manusia. Hanya dengan percaya kepada
Kristus seseorang dapat berdamai kembali dengan Allah. Kis. 4:12; Yoh.
3:16; 1Tim. 1:15; Gal. 3:13; 1Tes. 1:10; Rm. 14:9.
2. Penginjilan ibarat sebuah peperangan rohani (Ef. 6:12), untuk membebaskan manusia dari genggaman dan
pengaruh kuasa iblis (Kol. 1:13). Dunia sekarang ini sedang dipengaruhi
oleh iblis. Iblis menawarkan persahabatan dengan manusia kemudian menanamkan
pikiran-pikiran yang sejalan dengan kehendak iblis sehingga semua orang yang
telah mengikat persekutuan dengan iblis menyerang Allah dan firmanNya bahkan
terus berusaha “membutakan” mata hati manusia sehingga tertututp terhadap berita
Injil. Bagaimana cara mengatasi strategi iblis? Yang dapat kita lakukan adalah
terus berdoa dan memberitakan Injil
sebab kuasa Allah yang ajaib pasti menyertai kita dan berita yang kita
sampaikan, (Mat. 28:19-20).
Keindahan Injil
Keindahan Injil
adalah bahwa Allah di dalam kasih-Nya yang tidak terbatas menyediakan
pengampunan bagi manusia berdosa berdasarkan karya penebusan Yesus Kristus di
kayu salib.
Inilah Injil yang memberikan pengharapan akan hidup yang kekal bagi
setiap orang yang percaya kepada Yesus.
Keindahan Injil ini bersumber dari Allah
Tritunggal yakni bahwa Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus yang telah berencana untuk menyelamatkan
orang berdosa sebelum dunia diciptakan, (Kis. 2:25-28; Ef. 1:3,4; Ef. 3:8-11;
Tit. 1:2,3; Ibr. 13:20; 1Ptr. 1:18-20).
Perencanaan Allah Tritunggal ini hanya
didasarkan pada kedaulatan kehendak-Nya
semata (Ef. 1:5) dan bukan pada kehendak manusia berdosa.
Perencanaan tersebut dapat dimengerti sebagai
berikut:
§ Sejak atau lebih tepat dalam kekekalan Allah Bapa telah memilih Kristus berdasarkan kedaulatan
anugerah-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada orang berdosa (Ef. 1:4,5; Rm.
8:29). Kemudian Ia memberikan umat
tebusan-Nya kepada Kristus untuk ditebus (Yoh. 17:6), serta Ia juga yang memelihara umat tebusan-Nya dan
menggenapkan keselamatan itu (Yoh. 10:28,29; Rm. 8:30).
§ Kristus telah mati di salib (Gal. 3:13), untuk menebus dosa umat
pilihan-Nya. Yesus taat pada kehendak Bapa. Ia membenarkan, memberikan hidup kekal dan kemuliaan kepada umat-Nya
(Mat. 1:21), yakni orang-orang yang
diberikan Bapa (Yoh. 17:9), atau yang disebut domba-domba-Nya (Yoh. 10:11),
gereja-Nya (Kis 20:28), dan umat
pilihan Alah (Rm. 8:32,33).
§ Allah Roh Kudus yang menyadarkan seseorang akan
keberdosaannya dan kebutuhannya akan keselamatan. Allah memanggil orang berdosa
ke dalam keselamatan, dengan melahirbarukan mereka (Yoh. 3:3,5,7; 1Yoh. 4:10;
Yoh. 17:4, 14:26, 15:25). Dan memberikan kemampuan untuk beriman kepada Allah
melalui hati yang baru (Yeh. 11:19).
Penginjilan dapat dilakukan melalui percakapan secara pribadi ataupun pertemuan massal.
Hal-hal penting yang perlu ditekankan dalam
penginjilan adalah:
Pertama: Keselamatan adalah Anugerah
Allah. Anugerah artinya pemberian
Cuma-Cuma dari Allah. Dalam Efesus 2:8 dan 10, rasul Paulus menjelaskan bahwa keselamatan
adalah karya Allah yang diberikan kepada manusia bukan karya manusia (Ef.
2:8,10).
Manusia memiliki tanggung jawab untuk percaya
(beriman) kepada Allah.
Apakah tanggung jawab
manusia ini terpisah dari campur tangan Allah? Tidak! Untuk percaya saja, manusia tidak sanggup. Karena itu, Allah
memberikan kemampuan kepada manusia untuk beriman, seperti yang tertulis dalam
Filipi 2:12-13, yang menjelaskan bahwa Allah
yang membuat seseorang berkeinginan untuk beriman kepada Allah.
Kedua: Panggilan pertobatan
(Mrk.1:4,15; Kis. 2:38). Pertobatan terjadi
karena seseorang menyadari dirinya
telah melanggar hukum-hukum Allah yang kudus, benar, dan baik (Rm. 7:12).
Selain menyadari, orang tersebut harus bertekad
untuk meninggalkan dosa.
Ketiga: Kabar Baik. Isi kabar baik itu adalah bahwa Allah telah
menebus orang berdosa dari hukuman maut dan kebinasaan kekal, dan telah
mendamaikan orang berdosa dengan Allah sendiri dan menganugerahkan keselamatan
sehingga mereka memiliki persekutuan dengan Allah.
Inti kabar baik yang dipercayakan Allah
kepada setiap orang yang percaya adalah bahwa
Kristus telah menggantikan tempat manusia di atas kayu salib di Golgota.
Yesaya 53:5, berkata; “Tetapi
ia (Yesus) dilukai karena dosa-dosa kita, dan didera karena kejahatan kita. Ia
(Yesus) dihukum supaya kita diselamatkan, karena bilur-bilurnya kita
disembuhkan.”, BIS.
Dalam 2Kor. 5:21, rasul Paulus menjelaskan tentang hakikat
penginjilan dengan berkata: “Kristus tidak berdosa, tetapi Allah membuat
Dia menanggung dosa kita, supaya kita berbaik kembali dengan Allah karena
bersatu dengan Kristus.” (BIS).
Baca juga: 1Ptr. 3:18.
Makna Penginjilan
1. Penginjilan harus ditujukkan kepada semua orang yang belum mendengar Injil.
2. Penginjilan tidak boleh didefinisikan dalam
kerangka hasil.
Namun harus diingat bahwa pengharapan akan bertobatnya jiwa-jiwa
baru juga penting.
3. Penginjilan tidak boleh didefinisikan dalam
kerangka metode. Arti mendasarnya
adalah bahwa penginjilan tidak tergantung pada cara melainkan pada Pemberita
Injil dan Injil yang diberitakan.
Jadi, kita harus setia dalam penginjilan kepada semua orang yang belum
lahir baru, dan tidak tergantung pada cara dan hasil/target.
Kedaulatan Allah Dalam Penginjilan
Rasul Paulus dengan penuh kerendahan hati
mengakui kedaulatan Allah dalam penginjilannya. Jika kita mencermati pelayanan
rasul Paulus, dia adalah seorang yang fasih berbicara, namun ia justru
mengatakan bahwa pelayanannya sangat bergantung pada pekerjaan Roh Kudus. Ia
berkata:
“Baik perkataanku
maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan,
tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung
pada hikmat manusia”, 1Kor. 2:4,5.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa:
1. Allah sendiri dalam kedaulatan-Nya akan membuka mata hati orang berdosa sehingga
mereka dapat melihat kebenaran injil.
2. Allah sendiri yang dapat mengaruniakan
kemampuan kepada mereka untuk dapat menerima berita Injil tersebut, beriman, dan mendapatkan keselamatan sejati
sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya. Contoh: Kis. 16:13,14, menjelaskan bahwa
Tuhan membuka hatinya Lidia sehingga
ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus. Lidia dapat mengerti dan
menjadi percaya bukan karena rasul Paulus fasih berbicara melainkan karena “Tuhan membuka hatinya”.
3. Disini nyata bahwa: - Allah yang berdaulat akan bekerja memanggil orang-orang pilihan-Nya
- melalui para pemberita Injil yang setia
- memberitakan Injil-Nya.
Hambatan dalam
penginjilan
1. Adanya anggapan bahwa penginjilan itu hanya
tugas orang-orang yang secara full-time
bagi Tuhan (Pendeta, Penginjil, Majelis).
2. Tidak tahu apa yang harus dikatakan dan cara
mengatakannya.
3. Takut dan ragu dengan kemungkinan akan
menghadapi sejumlah pertanyaan tentang iman Kristen saat memberitakan Injil.
4. Sikap negative dari orang yang diinjili
seperti menolak, mencaci maki, memfitnah, mempermalukan.
5. Ada yang berpendapat bahwa “menjadi orang
Kristen itu jangan terlalu x-trem dengan memberitakan injil”.
* Bagaimana sikap
anda? Adakah hal yang ingin anda perbaiki?
Motivasi Dalam
Penginjilan
Allah melihat motivasi yang tulus dan murni
pada mereka yang mengabarkan Injil. Motivasi tersebut akan menyebabkan
seseorang tidak gampang kecewa dan undur ketika menjumpai kesulitan-kesulitan
dalam pelayanannya. Motivasi pemberita injil seharusnya bersumber pada:
1. Kasih Kristus (Yoh.
3:16)
2. Kehendak Allah dan
pimpinan Roh Kudus (Flp. 2:13). Allah adalah inisiator utama dan pertama dalam penginjilan.
Manusia hanya perlu taat pada pimpinan Roh Kudus dan menggenapi seluruh
kehendak Allah dalam hidup kita.
3. Amanat Agung Tuhan
Yesus (Mat. 28:19-20). Kristus adalah
Penginjil (Mat. 4:23, 11:1, 9:35). Ia adalah teladan yang tidak menyerah kepada
siapapun atau situasi apapun. Karena itu sebelum Ia naik ke sorga, Ia
memberikan pesan dan janji. Pesan itu adalah memberitakan Injil ke sumua
bangsa. Janji-Nya adalah menyertai mereka yang memberitakan Injil sampai akhir
zaman. Kita sekarang berada di zaman akhir menuju akhir zaman.
4. Perasaan Berhutang
(1Kor. 1:17; Tit. 1:3). Karena bagi Paulus
memberitakan Injil adalah suatu keharusan (1Kor. 9:16). Perasaan berhutang dan
dorongan untuk mengabarkan injil adalah akibat dari anugerah keselamatan yang
telah diterimanya.
5. Pengharapan Masa
Mendatang (Mat. 24:14). Pemberitaan Injil
berkaitan dengan akhir zaman. Yesus berkata “Dan
Injil kerajaan ini akan diberitakan ke seluruh dunia menjadi kesaksian bagi
semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”
Tujuan Melakukan
Pemberitaan Injil Adalah:
1. Untuk keselamatan
orang berdosa yang kita Injili.
2. Untuk memberitakan
tentang kerajaan Allah, dimana Yesus adalah Raja. Karena itu siapa yang percaya kepada Yesus, saat itu juga Yesus
berkuasa atas orang tersebut dan iblis tidak memiliki kuasa sedikitpun atas
orang tersebut.
3. Untuk membawa orang
berdosa melihat kemuliaan Allah dan mengenal kehendak Allah.
Pentingnya Penginjilan
Pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasar
bagi seseorang dalam melakukan pemberitaan Injil yaitu:
1. Manusia tersesat dan akan
binasa tanpa Kristus. Alkitab menyebutnya
sebagai sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa (Ef. 2:1). Dan
sedang menuju kebinasaan di bawah murka Allah (Yoh. 3:16,36; 2Kor. 4:3; Mrk.
9:43-48). Hal-hal ini tidak disadari oleh manusia itu sendiri, karena itu dengan
adanya penginjilan manusia disadarkan akan dosa dirinya sendiri dan murka Allah
yang akan menimpanya.
2. Manusia berdosa dan
tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Alkitab menjelaskan bahwa sejak dalam kandungan manusia sudah
mati dalam dosa. Dalam Ayub 14:4, menjelaskan bahwa “siapa yang dapat
mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!” (baca: Mat.
7:16-18).
3. Manusia terpisah
dengan Allah Sang Pencipta. Dosa memisahkan
manusia dengan Allah. Akibatnya manusia menjadi musuh Allah. Dengan demikian
harus ada seorang Pengantara antara manusia dan Allah. dan hanya Yesus pantas
menjadi Pengantara dan Pendamai (Flp. 1:23; 2Kor. 5:20; 1Kor. 9:19-22).
4. Kristus satu-satunya
jalan kepada Bapa di Sorga. injil adalah
kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Rm. 1:16). Hal ini
telah tercermin dalam pelayanan rasul Petrus.
Setelah selesai berkhotbah, orang-orang yang
mendengarkan khotbahnya bertanya kepadanya: “apakah yang harus kami perbuat
(Kis. 2:37)”. Pertanyaan ini merupakan suatu jeritan ketidak berdayaan diri,
cetusan kebutuhan pengampunan dosa dan harapan untuk memperoleh keselamatan. Ada
orang yang mengatakan bahwa “semua jalan di dunia menuntunmu ke sorga”. Pendapat
ini bertentangan dengan Alkitab. Yesus berkata; Akulah jalan, kebenaran, dan hidup; tidak ada seorangpun datang kepada
Bapa kalau tidak melalui Aku, Yohanes 14:6. Jadi, dibawah kolong langit
hanya ada satu Nama dan satu Pribadi
yang dapat menuntun sampai ke Sorga yaitu Yesus Kristus, baca: 2Tim. 2:5; Kis.
4:12.
Metode, Cara Dan Sarana Penginjilan
Setiap metode, cara dan saran dalam
penginjilan harus terus menerus diuji sehingga efektif dalam memenuhi Amanat Agung.
Metode, cara dan sarana penginjilan antara lain:
·
Penginjilan Pribadi
·
Penginjilan massa
·
Traktat
·
Media elektronika
(TV, Radio)
Setiap metode, cara, dan sarana harus
memperhatikan dua hal berikut:
1. Menyatakan berita
Injil yang sejati secara lengkap.
Yang dimaksud dengan Injil yang sejati adalah bahwa hanya Yesus Kristus satu-satunya
jalan keselamatan dan keselamatan adalah Anugerah dari Allah.
Injil yang lengkap adalah Injil yang menyatakan kehidupan
Yesus, pengajaran Yesus, kematian dan kebangkitan Yesus serta kedatangan Yesus
kedua kalinya.
1Kor. 15:3,4. Menjelaskan bahwa “Sebab
yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima
sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan
Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada
hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci”.
2. Pekerjaan Roh Kudus. Keberhasilan penginjilan tidak terletak pada
usaha, metode, cata dan sarana, tetapi terutama pada pekerjaan Roh Kudus dalam
diri orang berdosa. Setiap orang Kristen adalah Pemberita Injil. Tanggung jawab kita (orang Kristen) adalah menyampaikan
berita Injil sejati secara lengkap kepada orang lain, sedangkan hal memberikan
pertobatan dan iman yang benar kepada orang itu adalah tanggungjawab Allah sepenuhnya.
Karena itu, sikap bergantung kepada Allah ketika memberitakan Injil sangat
diperlukan.
Ada Tiga Macam Sikap
Terhadap Pekabaran Injil
1. Golongan pertama adalah orang yang sangat
aktif dan bersemangat di dalam memberitakan injil tetapi tidak mempunyai
pengertian theologia yang cukup.
2. Golongan kedua adalah orang yang mengerti
banyak tentang theologia tetapi tidak mempunyai jiwa penginjilan di dalam
dirinya sehingga tidak mengabarkan injil.
3. Golongan ketiga adalah orang yang semangat
dalam penginjilan dan punya theologia yang baik dan benar terhadap injil yang
diberitakan.
Kedua golongan pertama merupakan masalah
serius hari ini. Jika seseorang mengabarkan injil namun tidak punya pengertian
theologia yang benar, maka penginjilan yang dilakukan akan berjalan tanpa arah
yang benar dan mengakibatkan kebingungan dan kekacauan dalam memahami iman
Kristen. Jika seseorang mempunyai pengetahuan yang baik dan cukup luas, namun
tidak memiliki jiwa penginjilan, maka ia adalah orang Kristen yang kehidupannya
tidak berada di dalam rencana Allah.
Seharusnya setiap orang Kristen termasuk
dalam kelompok yang mengabarkan injil dengan pengertian theologia yang benar
dan dapat dipertanggungjawabkannya.
Pendekatan
Pendekatan yang kita dapat lakukan terhadap
orang yang kita injili adalah melalui mengajukan beberapa pertanyaan untuk
mengetahui kesiapannya menerima tawaran Injil.
1.
Apakah Anda memiliki
kepercayaan rohani tertentu? Pertanyaan ini tidak menanyakan apakah
mereka percaya kepada Allah. Pertanyaan seperti
ini mungkin akan dijawab, "Bukan urusanmu." Namun jika Anda bertanya
apakah mereka memiliki kepercayaan rohani tertentu, mereka akan berbicara
kepada Anda sekitar 5-10 menit. Biarkan mereka berbicara, sebab dengan demikian
mereka tidak akan terlalu berdebat dengan Anda. Jika mereka menjawab langsung
"ya" tanpa penjelasan apa pun, lanjutkan ke pertanyaan berikutnya.
2.
Menurut Anda, siapakah
Yesus? Pada saat Anda
bertanya kepada seseorang apa pendapatnya tentang Yesus, ia biasanya akan
menanggapi, "Anak Allah," atau "Orang yang mati disalib."
Ini adalah jawaban berdasarkan pengetahuan. Jika ia menjawab, "Allahku dan
Juruselamatku." Ini adalah jawaban yang menggambarkan persekutuan
pribadinya dengan Allah. jika ia menjawab “tidak”, lanjutkan pertanyaan
berikut.
3.
Menurut Anda, apakah
surga dan neraka itu ada? Pertanyaan ini aman.
Ini pertanyaan intelektual. Secara sederhana pertanyaan ini menanyakan apa yang
mereka percayai tentang kehidupan yang akan datang. Menurut Anda, apakah surga
dan neraka itu ada?" jika Ia menjawab dengan tegas, "Jelas tidak
ada." Maka, tanyakan pertanyaan keempat ini karena bersifat pribadi.
4.
Jika Anda meninggal
saat ini juga, ke mana Anda akan pergi? Jika ia menjawab “ke sorga”, Pendapat ini mengalir dari kepala ke
hatinya. Ketika Anda mulai berbicara tentang aspek-aspek pribadi kehidupan
seseorang, ia akan mulai serius. Tanyakan
lagi, mengapa Anda berpendapat demikian? Jawaban mereka akan menunjukkan
dengan tepat kepercayaan mereka yang sesungguhnya. Jika mereka berkata,
"Tidak tahu," lanjutkan ke pertanyaan berikutnya.
5.
Jika apa yang Anda
percayai ternyata tidak benar, maukah Anda mengetahui yang benar? Pertanyaan terakhir ini adalah pertanyaan
yang sulit. Yesus membuat orang-orang Farisi dan Saduki jengkel dengan
pertanyaan-pertanyaan-Nya yang keras, jadi kita tidak perlu ragu-ragu menanyai
mereka demikian.
Apakah dua kemungkinan jawaban atas
pertanyaan ini? Ya atau tidak. Jika "ya," teruskan. Jika jawabannya
"tidak," berhentilah. Dan tahukah Anda apa yang akan terjadi setiap
kali Anda berhenti? Orang itu akan berkata, "Tidakkah Anda ingin
memberitahu saya?" Sangat jarang orang menjawab tidak lalu sama sekali tak
berkeinginan mengetahui yang benar. Namun jika Anda benar-benar dijawab tidak,
ingatlah, itu bukan persoalan Anda, itu urusan Allah.
Bagian
Kita: Matius 28:18,19; 2Kor 5:20.
Bagian
Tuhan: Zakharia 4:6; 1Kor
2:4; Yohanes 6:44; Yohanes 6:65.
* Lakukanlah
Pemberitaan Injil Dengan Setia Kepada Semua Orang!
Tidak ada komentar :
Posting Komentar